PVMBG: Gunung Anak Krakatau Tumbuh Cepat, Belum Berpotensi Runtuh

Ilustrasi - Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. ANTARA/HO-Tangkapan layar.

PVMBG: Gunung Anak Krakatau Tumbuh Cepat, Belum Berpotensi Runtuh

Media Indonesia • 15 September 2026 16:18

Bandung: Gunung Anak Krakatau masih mengalami pertumbuhan tubuh gunung secara cepat. Meski demikian, kondisi gunung api tersebut saat ini belum mengkhawatirkan maupun berpotensi menimbulkan keruntuhan yang memicu tsunami.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) SS Rita Susilawati mengatakan tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini memiliki ketinggian sekitar 150 meter dengan kemiringan lereng yang landai.

"Pasalnya, ketinggian tubuhnya masih sekitar 150 meter. Dengan slop landai, jika terjadi runtuhan insya Allah tidak akan menyebabkan tsunami," ungkap Rita di Bandung, Selasa, 15 September 2026.

Rita menjelaskan Gunung Anak Krakatau sedang mengalami pertumbuhan konstruktif yang berlangsung relatif cepat. Proses tersebut dipengaruhi sejumlah kondisi geologi dan karakteristik magma di kawasan tersebut.

Menurut dia, faktor yang memengaruhi pertumbuhan Gunung Anak Krakatau antara lain kondisi tektonik regional karena berada di wilayah pertemuan lempeng, sistem magma yang telah terbuka, serta karakter magma yang lebih encer dengan frekuensi erupsi tinggi.
 


Di kawasan Gunung Anak Krakatau terdapat zona subduksi antarlempeng. Kondisi tersebut turut memengaruhi jalur magma dari wilayah Sumatera menuju kawasan Selat Sunda.

"Ini membuka jalur magma, sehingga magma ini tanpa hambatan berarti bisa naik ke atas. ini menyebabkan suhu magma sangat tinggi dan cair, sehingga meleleh dan cepat membentuk tubuh gunungnya," papar Rita.

Sistem Magma Terbuka

Rita mengatakan sistem magma Gunung Anak Krakatau sudah terbuka. Kondisi itu membuat material magma lebih mudah bergerak menuju permukaan dan mendukung proses pembentukan tubuh gunung secara cepat.

Menurut Rita, kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika Gunung Anak Krakatau sebagai gunung api muda yang masih mengalami proses pertumbuhan.

Selain perkembangan tubuh gunung, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga disebut telah kembali mengikuti pola normalnya, yakni tipe strombolian. Pola tersebut ditandai erupsi yang berlangsung secara berkala dalam waktu singkat.


Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu, 9 September 2026. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU/am


Rita mengatakan dalam dua hari terakhir tidak terjadi erupsi di Gunung Anak Krakatau. Aktivitas erupsi sebelumnya juga dinyatakan telah selesai.

Meski tidak terjadi erupsi dalam dua hari terakhir, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan. Potensi erupsi masih ada seiring dinamika aktivitas gunung api tersebut.

"Ke depan, kami terus memonitor perkembangannya. Potensi erupsi masih ada, tapi jangan terlalu dikhawatirkan, karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Gunung Anak Krakatau. Ini gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya," tandasnya. (Sugeng)

(Whisnu M)