Mengenal Penyakit Legionellosis, Penyebab Wabah di Kota New York

Hasil Scanning Electron Microscope (SEM) Legionella pneumophila. (Dok. CDC)

Mengenal Penyakit Legionellosis, Penyebab Wabah di Kota New York

Riza Aslam Khaeron • 23 July 2026 18:59

Jakarta: Sejak pandemi COVID-19 enam tahun lalu, masyarakat cenderung lebih waspada terhadap informasi mengenai timbulnya wabah penyakit. Beberapa bulan lalu, perhatian publik sempat tertuju pada kabar wabah hantavirus di kapal pesiar Belanda, dilanjutkan dengan munculnya kasus baru ebola di Kongo.
 
Kini, perhatian tertuju pada penyakit legionellosis yang dilaporkan di kota New York, Amerika Serikat (AS).

Wabah di kota tersebut sebenarnya telah dilaporkan sejak awal bulan ini. Per 21 Juli, Departemen Kesehatan AS mencatat 5 kasus kematian dan 82 diagnosis terkonfirmasi. Delapan pasien di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Pihak berwenang menyatakan tidak ada laporan kasus baru dalam enam hari terakhir, mengindikasikan sumber penularan wabah tersebut kemungkinan besar telah teratasi, meski proses penyelidikan masih terus berlangsung.

Namun, penyakit ini tidak hanya terjadi di AS dan pernah juga ditemukan di Indonesia. Untuk mencegah wabah serupa terjadi di Ibu Pertiwi, berikut penjelasan lengkap terkait penyakit legionellosis.
 

Apa Itu Penyakit Legionellosis?


Ilustrasi: Pexels

Penyakit legionellosis adalah penyakit pneumonia berat yang disebabkan oleh bakteri Legionella. Penularan terjadi saat seseorang menghirup percikan air yang terkontaminasi bakteri ini, misalnya dari sistem pendingin udara (AC), bak air panas, menara pendingin, maupun media tanam.

Secara umum, bakteri Legionella menyebabkan dua jenis penyakit:
  • Penyakit Legionellosis: Jenis pneumonia atau infeksi paru-paru yang berat.
  • Demam Pontiac: Infeksi yang lebih ringan dengan gejala menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala.
Dalam kasus langka, Legionella juga dapat memicu infeksi di luar organ paru-paru, seperti infeksi luka atau gangguan pada jantung.
 

Siapa Paling Rentan terhadap Penyakit Legionellosis?

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mayoritas penderita penyakit ini berusia di atas 50 tahun. Dari total kasus yang dilaporkan, sekitar 75–80 persen pasien berusia lebih dari 50 tahun dan 60–70 persen di antaranya berjenis kelamin laki-laki.

Faktor risiko lain yang meningkatkan kerentanan terhadap legionellosis meliputi kebiasaan merokok, riwayat konsumsi alkohol berat, penyakit paru kronis, gangguan sistem kekebalan tubuh (immunosuppression), serta penyakit ginjal atau saluran pernapasan kronis.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ini pada umumnya tidak menular dari manusia ke manusia.
 

Gejala Penyakit

Mengutip Mayo Clinic, gejala penyakit legionellosis biasanya mulai muncul 2 hingga 10 hari setelah seseorang terpapar bakteri Legionella. Pada tahap awal, gejala yang sering dirasakan meliputi:
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Demam tinggi hingga 40°C atau lebih
Pada hari kedua atau ketiga, gejala dapat berkembang menjadi:
  • Batuk berdahak, terkadang disertai bercak darah
  • Sesak nafas
  • Nyeri dada
  • Mual, muntah, dan diare
  • Linglung atau perubahan status mental
     

Perkembangan Legionellosis Kasus di Indonesia

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Indonesia tidak asing dengan penyakit ini.

Indonesia sebelumnya telah menerima notifikasi laporan kasus konfirmasi legionellosis sejak tahun 2010. Selama periode 2010 hingga Mei 2023, tercatat sebanyak 43 kasus yang seluruhnya dialami oleh warga negara asing (WNA).

Kasus konfirmasi pertama pada WNI baru tercatat pada 30 Mei 2023, yaitu sebanyak 2 kasus yang dilaporkan di Kota Bandung, Jawa Barat. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga Minggu Epidemiologi ke-27 tahun 2026 (5 Juli s.d. 11 Juli 2026) mencatat perkembangan sebagai berikut:
  • 364 kasus suspek legionellosis
  • 69 kasus terkonfirmasi positif
  • 293 kasus dinyatakan negatif
  • 2 kasus tidak dapat diambil spesimennya
  • 4 kasus meninggal dunia
Sebaran 69 kasus positif berdasarkan domisili pasien meliputi:
  • Kepulauan Riau: 49 kasus
  • Jawa Barat: 15 kasus
  • Bali: 3 kasus
  • DKI Jakarta: 2 kasus
Empat kasus kematian yang tercatat terbagi di tiga wilayah, yaitu dua kasus di Kepulauan Riau, satu kasus di Bali, dan satu kasus di Jawa Barat.
 
Baca Juga:
Pemkot Pekalongan Cegah Penularan TBC Lewat Program ACF
 

Langkah Pencegahan

Berdasarkan anjuran Kemenkes, cara efektif untuk mencegah penularan adalah dengan mengendalikan kualitas air dan mencegah kondisi tempat bakteri legionela berkembang biak. Langkah-langkah tersebut antara lain:
  1. Melakukan pembersihan dan perawatan menara pendingin udara (cooling tower) serta kondensor secara berkala, minimal 2 kali dalam setahun, disertai pemberian klorin secara periodik.
  2. Memastikan pemanas air di area kerja atau fasilitas umum disetel pada suhu minimal 60°C, serta air yang mengalir pada keran memiliki suhu minimal 50°C.
  3. Menghindari dan membersihkan area yang berpotensi menyebabkan air tergenang dalam waktu lama.
Berdasarkan CDC, di alam liar, Legionela umumnya hidup di air bersih dan jarang menyebabkan masalah.

Namun di lingkungan manusia, bakteri legionela dapat berkembang pesat jika sistem pengelolaan air tidak terawat dengan baik. Sumber air buatan ini menjadi berisiko ketika percikan air berukuran halus (droplets) yang mengandung bakteri terlepas ke udara lalu terhirup oleh manusia.

Oleh karena itu, bukan hanya untuk mencegah perkembang biakan nyamuk, masyarakat harus selalu mengawasi sumber air yang terkontaminasi di lingkungan sekitar.

(Riza Aslam Khaeron)