Literasi Digital Dinilai Perlu Cara Baru untuk Hadapi Era AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)

Literasi Digital Dinilai Perlu Cara Baru untuk Hadapi Era AI

Achmad Zulfikar Fazli • 25 June 2026 20:13

Jakarta: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai perlu cara baru dalam literasi digital untuk menghadapi era kecerdasan artifisial (AI). Literasi digital terbaru harus fokus pada pemanfaatan konektivitas untuk menciptakan inovasi dan solusi secara lebih luas.

"Program literasi digital sekarang lebih ke upskilling, meningkatkan kecakapan yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan sekarang,” kata Nezar saat menerima audiensi Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADIPIKI) di Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 25 Juni 2026.

Dia menilai memberikan literasi dengan cara menggunakan gawai, memasangkan gawai ke konektivitas internet, dan berselancar secara daring tidak perlu lagi dilakukan secara masif. Platform digital sudah semakin terlibat dalam keamanan maupun etika digital. Selain menyediakan wadah penghubung, platform digital telah bertanggung jawab atas layanannya.

Nezar mengatakan pendekatan literasi digital yang baru dibutuhkan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tidak tertinggal perkembangan teknologi yang serba AI.

“Kalau sekarang kayaknya sudah lewat masa itu. Walaupun masih dibutuhkan, tetapi sudah dikerjakan ataupun diadopsi oleh platform-platform lewat community guidelines dan lain-lain,” kata Nezar.

Ilustrasi literasi digital. Dok Aptika Kominfo

Baca Juga: 

Menkomdigi: Akses Digital Harus Disesuaikan dengan Usia

Menurut dia, perubahan arah program literasi digital sebagai langkah tepat dan sesuai arahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Mengingat Kementerian Komdigi sudah menjalankan program literasi digital dengan pendekatan yang sama selama hampir satu dekade.

“Kita melakukan program-program literasi digital sudah cukup lama, hampir satu dekade dan evaluasi yang dilakukan oleh Bappenas terhadap program ini juga sudah final. Kita tidak melanjutkan lagi literasi digital seperti yang dulu,” ujar Nezar.

Nezar mengatakan pihaknya tengah menjalankan cara literasi digital yang baru ke masyarakat dengan membekali kemampuan untuk menghadapi disinformasi, misinformasi, dan hoaks.

(Achmad Zulfikar Fazli)