Hari Kesadaran Autisme Tiap 2 April, Penanganan Dasar Masih Terkendala

Ilustrasi Pexels

Hari Kesadaran Autisme Tiap 2 April, Penanganan Dasar Masih Terkendala

Muhamad Marup • 1 April 2026 19:48

Jakarta: Hari Kesadaran Autisme Sedunia diperingati setiap 2 April. Penanganan autisme di Indonesia dinilai masih menghadapi kendala mendasar.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rozana Ika Agustiya, mengatakan, saat ini belum belum tersedianya data nasional terkait autisme. Hingga kini angka autisme di Indonesia masih bersifat estimasi dan belum didukung survei nasional yang komprehensif.

"Kalau kita tahu jumlah dan distribusinya, kita bisa merencanakan kebutuhan layanan, tenaga ahli, hingga anggaran. Tanpa data, kebijakan jadi tidak tepat sasaran," ujarnya, dalam keterangan resminya, Rabu, 1 April 2026.

Dia menjelaskan, selain mengetahui jumlah kasus, data jadi penting untuk memetakan karakteristik dan kebutuhan kelompok usia yang berbeda. Dengan demikian, intervensi yang dirancang dapat lebih terarah dan efektif.

"Di lapangan, keterbatasan data tersebut berkelindan dengan berbagai tantangan lain dalam penanganan autisme," jelasnya.

Deteksi Dini

Ika mengatakan, tantangan lain dalam penanganan autisme adalah keterlambatan deteksi dini. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi karena kurangnya pemahaman orang tua, tapi juga keterbatasan tenaga terlatih di layanan dasar seperti puskesmas dan posyandu.

Kondisi tersebut semakin diperparah keterbatasan akses terhadap layanan terapi, terutama di luar kota besar. Padahal, jenis terapi yang dibutuhkan anak autis beragam, mulai dari terapi wicara, terapi okupasi, hingga intervensi perilaku.

"Layanan yang ada juga belum terintegrasi. Orang tua dengan anak autis sering harus berpindah-pindah antara dokter, psikolog, dan terapis di tempat berbeda," katanya.

Dia menekankan pentingnya deteksi dini agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Semakin awal anak teridentifikasi, semakin besar peluangnya untuk berkembang dan beradaptasi, termasuk dalam kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi sosial.

"Namun demikian, tujuan utama intervensi bukan untuk “menyamakan” anak autis dengan anak lain, melainkan membantu mereka mencapai fungsi optimal sesuai potensinya. Setiap anak memiliki spektrum dan kemampuan yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan juga perlu disesuaikan," terangnya.

Sosial dan Ekonomi

Ika menilai, kondisi-kondisi tersebut menambah beban keluarga, baik dari sisi waktu, tenaga, maupun ekonomi. Meski sebagian layanan telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, biaya transportasi, kebutuhan pendamping, hingga alat bantu masih harus ditanggung sendiri.

"Tidak jarang, salah satu orang tua harus mengurangi aktivitas kerja untuk mendampingi anak secara intensif," ucapnya.

Di sisi sosial, kata dia, stigma terhadap anak autis juga masih kuat. Anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi kerap disalahpahami sebagai "nakal", sementara orang tua dianggap tidak mampu mengasuh dengan baik.

Ilustrasi Pexels

Padahal, dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan autisme tidak hanya bergantung pada layanan medis, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan. Orang tua memiliki peran kunci dalam membantu anak mencapai kemandirian.

"Akhirnya orang tua bisa merasa tertekan dan menarik diri dari lingkungan sosial," sebutnya.

Menurut Ika, orang tua tidak hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi juga ko-terapis dalam proses terapi anak.

"Terapi itu hanya satu sampai dua jam di layanan kesehatan, sisanya anak ada di rumah. Jadi orang tua yang melanjutkan latihan, baik komunikasi, motorik, maupun kemandirian sehari-hari," tutupnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)