Apa Itu Panda Bonds? Jurus Jitu Purbaya yang Bisa Bikin Rupiah 'Berotot'

Ilustrasi surat utang/bonds. Foto: Bigalpha.id

Apa Itu Panda Bonds? Jurus Jitu Purbaya yang Bisa Bikin Rupiah 'Berotot'

Husen Miftahudin • 7 June 2026 17:30

Jakarta: Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan rencana penerbitan Panda Bonds di Tiongkok untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Penerbitan ini dilakukan melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan Panda Bonds di Tiongkok dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi, diversifikasi kita, akan lebih baik lagi ke depan," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dikutip Minggu, 7 Juni 2026.

Purbaya menjelaskan, langkah diversifikasi ini bertujuan agar ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat dapat dikurangi. Penerbitan instrumen utang di pasar Tiongkok tersebut juga akan menguntungkan, karena menawarkan tingkat bunga yang lebih kompetitif bagi pemerintah.

Strategi penguatan nilai tukar ini merupakan hasil pembahasan dalam rapat terbatas antara Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Fokus utama pertemuan tersebut adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tengah terakselerasi.
 

Baca juga: Pendalaman Pasar Valas, BI Dukung Penerbitan Panda Bonds
 

Apa itu Panda Bonds?


Dikutip dari Wikipedia, Panda bonds merupakan salah satu instrumen keuangan berupa surat utang atau obligasi dalam mata uang Tiongkok, Renminbi. Surat utang tersebut kemudian diterbitkan oleh entitas luar negeri dan dijual di pasar obligasi domestik Tiongkok. 

Adapun entitas yang dapat menerbitkan Panda Bonds seperti pemerintah asing, lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank, hingga perusahaan asing. Surat utang diterbitkan dalam bentuk Yuan atau Renminbi.

Surat utang yang diterbitkan di pasar domestik Tiongkok tersebut, nantinya akan tunduk pada regulasi pemerintahan Tiongkok. Mengingat, mayoritas calon investor Panda Bonds merupakan investor lokal seperti bank, dana pensiun, hingga manajer investasi Tiongkok. 

Asal-usul nama Panda Bonds sendiri berasal dari ikon Tiongkok, yakni hewan Panda. Hal ini sudah menjadi tradisi global, di mana obligasi asing yang diterbitkan di pasar domestik suatu negara akan diberi nama ikon negara tersebut.


(Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok Istimewa)
 

Manfaat Panda Bonds bagi Indonesia


Penerbitan Panda Bond memberikan sejumlah keuntungan bagi Indonesia, terutama dalam memperluas strategi pembiayaan negara di tengah tekanan global. Berdasarkan penjelasan Bank of China, instrumen ini memungkinkan pemerintah mengakses pasar obligasi Tiongkok yang besar sekaligus memperoleh biaya pinjaman yang relatif lebih rendah dibandingkan pasar berbasis dolar.

Selain itu, mengutip Finance for Development Lab, Panda Bonds juga mendukung diversifikasi sumber pendanaan sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu mata uang atau satu pasar keuangan saja.

Selain kedua manfaat tersebut, masih ada sejumlah manfaat dari penerbitan Panda Bond bagi Indonesia, yakni sebagai berikut.
 

1. Diversifikasi pembiayaan dari pasar Tiongkok

Indonesia dapat memperoleh sumber dana baru dari pasar domestik China yang merupakan salah satu terbesar di dunia. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis dolar AS dapat dikurangi secara bertahap.
 

2. Biaya pinjaman yang relatif lebih rendah

Suku bunga di pasar Tiongkok dinilai lebih rendah dibandingkan pasar lain. Hal ini membuat Panda Bond menjadi opsi yang lebih efisien untuk pembiayaan negara.
 

3. Perluasan basis investor

Panda Bonds memberikan akses kepada investor institusional di Tiongkok yang jumlahnya besar dan terus berkembang. Dengan basis investor yang lebih luas, peluang penyerapan obligasi juga menjadi lebih tinggi.
 

4. Kurangi ketergantungan dolar

Penggunaan yuan sebagai alternatif mata uang pembiayaan membantu mengurangi dominasi dolar dalam struktur utang. Hal ini dapat membantu menjaga stabilitas rupiah saat terjadi perubahan besar terkait nilai tukar secara global.

(Husen Miftahudin)