Ilustrasi: Instagram/@england
Statistik Inggris vs Argentina: Three Lions Unggul Head-to-Head
Riza Aslam Khaeron • 15 July 2026 20:30
Jakarta: Inggris dan Argentina akan kembali menghidupkan salah satu rivalitas paling sengit dan penuh sejarah dalam sepak bola dunia. Kedua tim dijadwalkan bentrok pada babak semifinal Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, pada Kamis, 16 Juli 2026 waktu Indonesia.
Mengutip Antara, sejak pertemuan pertama mereka dalam laga persahabatan di London pada tahun 1951, Inggris dan Argentina telah berhadapan sebanyak 15 kali. Dari total pertemuan tersebut, Inggris sukses mengamankan 6 kemenangan, Argentina mencatatkan 2 kemenangan, sedangkan 7 laga sisanya berakhir dengan skor imbang.
Dengan peta kekuatan tersebut, Inggris mendominasi dengan memenangi sekitar 40% dari seluruh pertemuan. Sebaliknya, Argentina hanya mengantongi persentase kemenangan sebesar 13 persen, sementara hampir separuh dari keseluruhan duel kedua negara berakhir tanpa pemenang.
Pertemuan terakhir kedua tim terjadi dalam laga persahabatan di Swiss pada 12 November 2005. Kala itu, Inggris keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 3-2 melalui pertandingan dramatis yang berlangsung sangat ketat hingga menit-menit akhir.
Inggris Unggul di Pertemuan Piala Dunia
Khusus di panggung Piala Dunia, Inggris dan Argentina tercatat sudah lima kali saling berhadapan. Three Lions masih lebih unggul dengan mengemas 3 kemenangan, sementara Argentina mengoleksi 2 kemenangan, termasuk salah satunya lewat drama adu penalti yang menegangkan pada babak 16 besar Piala Dunia 1998.Inggris meraih kemenangan pertamanya atas Argentina dengan skor 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 1962. Empat tahun berselang, pada edisi 1966, mereka kembali menundukkan sang rival dengan skor tipis 1-0 berkat gol tunggal Geoff Hurst, sebuah kemenangan krusial dalam perjalanan Inggris merengkuh trofi juara dunia untuk pertama kalinya.
Argentina membalas kekalahan tersebut pada perempat final Piala Dunia 1986. Dua gol legendaris dari Diego Maradona, yakni gol kontroversial "Tangan Tuhan" serta aksi individu spektakuler yang kemudian dinobatkan sebagai "Gol Abad Ini", membawa Albiceleste menang 2-1 dan melaju ke tangga juara.
Duel klasik kembali tersaji pada Piala Dunia 1998 yang berakhir dengan skor imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu. Argentina akhirnya memenangi adu penalti setelah Inggris terpaksa bermain dengan 10 orang menyusul kartu merah ikonik yang diterima David Beckham.
Empat tahun kemudian, Beckham sukses menuntaskan dendamnya. Eksekusi penaltinya yang dingin membawa Inggris menang 1-0 atas Argentina di fase grup Piala Dunia 2002. Laga bersejarah tersebut menjadi pertemuan terakhir kedua negara di ajang Piala Dunia sebelum bentrokan semifinal 2026 ini.
Catatan sejarah tersebut memang memosisikan Inggris di atas angin secara historis. Namun, statistik pertemuan langsung saja tentu tidak cukup, sebab Argentina memiliki rekor pertarungan yang luar biasa solid ketika sudah mencapai fase empat besar.
Argentina Belum Pernah Gagal di Semifinal

Maradona ketika mencetak gol melawan Inggris, Piala Dunia 1986. (El Grafico via Wikimedia Commons)
Sebelum melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026, Argentina tercatat telah enam kali tampil di babak semifinal sepanjang sejarah keikutsertaan mereka. Mereka memiliki rekor kesuksesan 100% karena selalu berhasil melewati fase ini untuk melaju ke partai puncak.
Tiga dari enam keberhasilan menembus final tersebut bahkan berbuah trofi juara dunia, yaitu pada edisi 1978, 1986, dan 2022.
Di sisi lain, Inggris memiliki pengalaman yang jauh lebih terbatas di fase ini. Sebelum edisi 2026, Three Lions baru tiga kali mencicipi babak semifinal, yakni pada tahun 1966, 1990, dan 2018. Dari tiga kesempatan tersebut, hanya skuad tahun 1966 yang mampu melaju ke final hingga akhirnya keluar sebagai juara.
Menariknya, perjalanan kedua tim menuju semifinal 2026 ini menunjukkan satu kesamaan pertahanan: baik Inggris maupun Argentina sama-sama baru kebobolan 4 gol sepanjang turnamen berlangsung.
Namun, untuk urusan produktivitas lini serang, Argentina jauh lebih menonjol. Lionel Messi dan kawan-kawan telah menggelontorkan total 17 gol, yang berarti mereka memiliki rata-rata produktivitas tinggi sebesar 2,8 gol per pertandingan.
Kendati demikian, laga semifinal ini akan menjadi ujian dengan level kesulitan yang sepenuhnya berbeda bagi Albiceleste. Inggris merupakan tim berperingkat 10 besar dunia pertama yang akan dihadapi Argentina di Piala Dunia 2026 ini. Sebelumnya, lawan dengan peringkat FIFA tertinggi yang mereka hadapi hanyalah Swiss di posisi ke-14 dan Mesir di urutan ke-24.
Inggris juga membawa modal impresif sebagai tim yang belum terkalahkan sepanjang turnamen bergulir. Catatan ini jauh lebih solid dibandingkan dengan perjalanan mereka menuju semifinal Piala Dunia 2018, di mana saat itu Three Lions sempat menelan kekalahan di fase grup.
| Baca Juga: Sejarah Panjang Rivalitas Inggris vs Argentina, Beckham, Maradona, dan Scaloni |
Messi Produktif, Kane Efisien
Sorotan utama menjelang laga tentu tertuju pada duel statistik antara dua megabintang sekaligus kapten masing-masing tim: Lionel Messi dan Harry Kane. Hingga menjelang semifinal, Messi telah melepaskan 33 tembakan dan sukses mengemas 8 gol. Di kubu seberang, Kane baru mengoleksi 6 gol dari total 22 percobaan tembakan.Secara kuantitas, Messi memang unggul dengan selisih 2 gol dan 11 tembakan lebih banyak. Akan tetapi, Kane terbukti memiliki tingkat konversi peluang yang sedikit lebih efisien. Striker andalan Inggris tersebut mampu mengonversi sekitar 27% tembakannya menjadi gol, sementara persentase konversi Messi berada di kisaran 24%.
Menariknya, ini akan menjadi kali pertama bagi Lionel Messi menghadapi tim nasional Inggris di level internasional, meskipun ia telah mencatatkan rekor fantastis sebanyak 205 penampilan bersama Argentina. Kendati begitu, Messi sangat familier dengan karakter permainan sepak bola khas Inggris.
Di tingkat klub, Messi tercatat telah 36 kali menghadapi klub-klub Premier League Inggris dengan persentase kemenangan mencapai 53%. Pengalaman panjang inilah yang diprediksi akan membantunya membongkar pertahanan kokoh Inggris yang mengandalkan kedisiplinan taktik, kekuatan lini tengah, serta ketajaman transisi cepat.
Pada babak perempat final sebelumnya, Inggris sukses meredam agresivitas Erling Haaland saat menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1.
Namun, mematikan pergerakan Messi akan menjadi tantangan yang jauh berbeda. Bintang Inter Miami tersebut tidak hanya berperan sebagai penyelesai akhir, tetapi juga bertindak sebagai motor serangan, pengatur tempo permainan, sekaligus kreator peluang utama Argentina.
Hasil akhir pertandingan ini tampaknya akan sangat ditentukan oleh seberapa sukses taktik Inggris dalam mengisolasi pergerakan Messi, serta bagaimana kesiapan mental Argentina saat menghadapi lawan terberat mereka sejauh ini.
Inggris boleh saja memegang kendali sejarah, tetapi rekam jejak Argentina menegaskan bahwa mereka adalah tim yang sangat jarang menyia-nyiakan kesempatan emas ketika trofi juara sudah berada satu langkah di depan mata.