Senjata api mainan milik terduga pelaku yang ditemukan di lokasi ledakan di SMAN 72/Istimewa
Ledakan SMAN 72 Jakut Digolongkan Sebagai Memetic Violence, Apa Itu?
Riza Aslam Khaeron • 12 November 2025 15:36
Jakarta: Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta Utara pada awal November 2025 menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan publik. Insiden yang menyebabkan 96 orang luka-luka itu pada awalnya diduga sebagai aksi terorisme, mengingat daya ledaknya serta profil pelaku yang menggunakan simbol dan nama-nama tokoh ekstremis.
Namun, hasil investigasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri memastikan bahwa kasus ini tidak berkaitan dengan jaringan terorisme manapun.
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengonfirmasi bahwa pelaku yang masih di bawah umur tidak memiliki afiliasi dengan kelompok teroris. Sebaliknya, aksi tersebut masuk dalam kategori memetic violence, yaitu kekerasan yang dilakukan karena terinspirasi oleh konten daring, baik berupa ideologi, tokoh, maupun tindakan kekerasan yang dilihat secara online.
Pelaku disebut meniru gaya dan simbol dari beberapa penyerang ekstremis seperti pelaku tragedi Columbine, Christchurch, hingga serangan masjid di Kanada dan kampus di Rusia.
"Yang bersangkutan hanya mempelajari kemudian mengikuti beberapa tindakan ekstremisme yang dilakukan bahkan posenya kemudian beberapa simbol yang ditemukan itu sekadar menginspirasi," ujar Mayndra dalam konferensi pers di Polda Metro pada Selasa, 11 November 2025.
Lantas apa itu memetic violence? Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Memetic Violence
Memetic violence adalah istilah yang merujuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan seseorang karena meniru atau terinspirasi oleh konten ekstremis yang tersebar secara daring, terutama dalam bentuk meme atau simbol visual lainnya.Tidak seperti aksi terorisme konvensional yang dilakukan oleh jaringan terorganisir, memetic violence cenderung dilakukan secara individual oleh pelaku yang terdampak secara psikologis dan ideologis oleh konten yang mereka konsumsi di internet.
Menurut laporan gabungan dari National Counterterrorism Center (NCTC), Department of Homeland Security (DHS), dan Federal Bureau of Investigation (FBI), pelaku kekerasan ekstremis kini semakin sering menggunakan meme untuk menyebarkan narasi radikal yang mudah dikonsumsi, dibagikan, dan diterima oleh audiens luas.
Meme tersebut menggantikan retorika ideologis panjang dengan visual singkat namun sarat simbolisme. Meme jenis ini dapat mengaburkan atau meremehkan gravitasi pesan kekerasan yang dikandungnya.
Salah satu kekuatan dari memetic violence terletak pada ambiguitas dan sifat viral meme.
Banyak meme yang sekilas tampak tidak berbahaya atau bahkan lucu, namun memuat ajakan, glorifikasi pelaku kekerasan, atau penguatan identitas kelompok tertentu yang memusuhi “out-group” tertentu.
Hal ini membuat deteksi dini terhadap radikalisasi menjadi jauh lebih sulit.
Meme juga digunakan sebagai alat untuk merekrut simpatisan, membentuk solidaritas kelompok, dan membangun “pemisahan moral” melalui dehumanisasi.
Pelaku kekerasan memetik tidak selalu menunjukkan tanda-tanda keterlibatan langsung dengan kelompok ekstremis, namun bisa menunjukkan perubahan perilaku. Seperti mengidolakan pelaku serangan sebelumnya, menggunakan simbol atau gaya visual ekstremis, serta menunjukkan sikap menyendiri, fanatik, dan sinis terhadap kelompok lain.
Dengan demikian, memetic violence bukan hanya masalah budaya digital, tetapi juga tantangan nyata bagi keamanan publik dan penegakan hukum. Sebab, pelaku bisa muncul dari siapa saja yang terdampak oleh narasi kekerasan yang tersebar bebas dan masif di ruang maya.
| Baca Juga: Kasus Ledakan di SMAN 72 Jakarta Dinilai Lebih Bahaya dari Terorisme |
Kasus-Kasus Memetic Violence
.jpg)
Foto: Foto: Brenton Tarrant. (Sky News)
Fenomena memetic violence telah muncul di berbagai belahan dunia, menunjukkan pola di mana pelaku kekerasan mengutip, meniru, atau terinspirasi dari konten daring berupa meme, simbol, manifesto, hingga rekaman langsung (livestream).
Beberapa kasus di bawah ini dianggap sebagai contoh konkret dari kekerasan yang didorong oleh radikalisasi visual dan digital:
1. Penembakan Masjid Christchurch, Selandia Baru (2019)
Brenton Tarrant, pelaku serangan yang menewaskan 51 orang, menyebarkan manifesto rasis dan menyiarkan aksinya secara langsung di Facebook Live. Ia menggunakan simbol dan narasi yang banyak beredar di forum-forum ekstrem kanan seperti 8chan.Dia juga terkenal meneriakan "subscribe to Pewdiepie" ketika melakukan aksi. Aksinya menjadi pemicu gelombang peniruan (copycat) secara global.
2. Serangan Sinagoga Poway, California (2019)
John Earnest mengunggah surat terbuka di 8chan yang memuji Tarrant dan menyatakan niat untuk meniru tindakannya. Ia melakukan penembakan di sinagoga yang menyebabkan satu orang tewas dan beberapa luka-luka.Suratnya dipenuhi referensi internet dan gaya khas meme supremasi kulit putih.