Tetap Enak Tapi Sehat, Simak Tips Modifikasi Mi Instan Ala Dietisien

Ilustrasi mi instan. Foto: ANTARA/HO-pixabay.

Tetap Enak Tapi Sehat, Simak Tips Modifikasi Mi Instan Ala Dietisien

Fachri Audhia Hafiez • 3 February 2026 05:45

Jakarta: Mengonsumsi mi instan tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan asalkan diolah dengan cara yang tepat. Ahli gizi menyarankan masyarakat untuk melakukan modifikasi pada bumbu dan menambahkan bahan pangan alami guna menyeimbangkan kandungan gizi serta menekan kadar natrium yang tinggi.

Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” kata ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah kepada ANTARA, Senin, 2 Februari 2026.
 


Diah menjelaskan, salah satu trik sederhana adalah dengan mengurangi porsi bumbu bubuk bawaan. Misalnya, jika memasak lima porsi untuk keluarga, cukup gunakan tiga bungkus bumbu saja.

Lalu sisanya diganti dengan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, atau cabai segar. Untuk meningkatkan nutrisi, penambahan protein hewani seperti telur, daging ayam suwir, atau ikan sangat dianjurkan.

Selain itu, asupan serat dari sayuran seperti sawi, kangkung, atau tomat sangat penting sebagai sumber kalium guna menyeimbangkan natrium. Diah juga mengingatkan agar masyarakat tidak menghabiskan kuah mi instan serta menghindari tambahan pelengkap tinggi garam seperti saus, kecap, pilus, atau keripik asin. 

“Jika kita bandingkan dalam satu sajian energinya memang dapat berbeda 50 persennya dikarenakan teknik pemanggangan minya sehingga kandungan lemaknya pun signifikan lebih sedikit turun 40 persen,” jelasnya.


Ilustrasi. Foto: Freepik.com.

Namun, ia memberi catatan tegas bahwa mi instan dengan klaim sehat atau teknik panggang tetap memiliki kandungan natrium yang signifikan, bahkan ada yang mencapai di atas 1.500 miligram tergantung varian rasa. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap teliti membaca label informasi nilai gizi dan tidak menjadikan mi tersebut sebagai menu harian.

Diah menyarankan agar mi instan tidak dimasukkan ke dalam daftar belanja bulanan untuk menghindari godaan konsumsi rutin. Ia menekankan agar makanan praktis ini tetap diposisikan sebagai "makanan rekreasi" saja, bukan asupan pokok harian. 

Hal ini juga berlaku pada mi instan yang mengklaim lebih sehat yang dituliskan mi dipanggang dan nonMSG.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)