Venezuela Pertimbangkan Keluar dari OPEC Seiring Menguatnya Hubungan dengan AS

Ilustrasi OPEC. Foto: Dok Anadolu

Venezuela Pertimbangkan Keluar dari OPEC Seiring Menguatnya Hubungan dengan AS

Eko Nordiansyah • 28 August 2026 14:37

Caracas: Venezuela sedang mempertimbangkan untuk keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Ini menjadi sebuah langkah yang dapat semakin melemahkan pengaruh kartel minyak tersebut terhadap pasar minyak mentah global, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News, mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Dikutip dari Investing, Jumat, 28 Agustus 2026, gagasan ini telah dibahas dengan para pejabat AS, meskipun belum ada keputusan akhir yang diambil, menurut laporan tersebut. Langkah keluar ini akan menandai perubahan besar bagi Venezuela, salah satu dari lima negara pendiri OPEC pada 1960 yang memainkan peran sentral dalam pembentukannya.

Potensi keluarnya Venezuela ini muncul di tengah upaya Washington mempererat hubungan dengan Caracas dan menegosiasikan akses jangka panjang terhadap cadangan minyak Venezuela. Pembicaraan tersebut mencakup kemungkinan sewa selama 100 tahun atas beberapa ladang minyak.

Venezuela memproduksi sekitar 1,16 juta barel per hari pada Juli, menurut survei Bloomberg, jumlah yang kurang dari separuh produksinya satu dekade lalu. Oleh karena itu, keluarnya negara tersebut hanya akan berdampak terbatas dalam jangka pendek terhadap pasar minyak global.

Namun, langkah keluar ini dapat memperdalam kekhawatiran mengenai kekompakan OPEC setelah Uni Emirat Arab meninggalkan kelompok tersebut awal tahun ini, yang melemahkan kemampuan kelompok itu dalam memengaruhi harga minyak mentah.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

AS mendekati kesepakatan akses cadangan minyak Venezuela

Pemerintahan Donald Trump hampir mencapai kesepakatan untuk mendapatkan akses jangka panjang terhadap sebagian cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar, lapor Reuters pada Kamis.

Kesepakatan tersebut diperkirakan akan segera ditandatangani dan akan memungkinkan pemerintah AS mengamankan sejumlah ladang minyak Venezuela untuk dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika, menurut laporan Reuters.

Pasar minyak terus waspada terhadap potensi peningkatan pasokan akibat kendali AS atas aset-aset minyak Venezuela, setelah Washington menyingkirkan pemimpin Nicolas Maduro dan mengambil alih industri minyak negara tersebut.

Namun, para analis juga memperingatkan peningkatan pasokan yang nyata akan memakan waktu, mengingat besarnya pengembangan yang diperlukan pada infrastruktur minyak Venezuela.

(Eko Nordiansyah)