Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Naik usai AS Dikabarkan Menolak Kesepakatan Damai dengan Iran
Eko Nordiansyah • 28 August 2026 08:32
Houston: Harga minyak pada Kamis, 27 Agustus 2026, naik setelah muncul laporan pemerintahan Trump menolak untuk kembali ke ketentuan kesepakatan damai sementara dengan Iran yang ditandatangani pada Juni.
Sebelumnya pada hari itu, harga minyak mentah acuan sempat turun di tengah tanda-tanda membaiknya hubungan AS-Iran.
Dikutip dari Investing, Jumat, 28 Agustus 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 1,9 persen menjadi USD88,60 per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 1,8 persen menjadi USD83,66 per barel.
Meskipun demikian, kedua kontrak tersebut masih mencatat penurunan lebih dari lima persen sepanjang minggu ini.
AS dikabarkan menolak kembali ke kesepakatan Iran pada awal Juli
Mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, The Wall Street Journal pada Kamis melaporkan AS telah berulang kali menyampaikan kepada pihak penengah mereka tidak berminat kembali pada ketentuan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dengan Iran pada pertengahan Juni.Laporan tersebut menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump lebih memilih untuk menunggu dan melihat apakah perang ekonomi terhadap Iran akan membuahkan hasil.
Awal pekan ini, Washington meluncurkan "Operation Economic Outcast" (Operasi Pengucilan Ekonomi) yang mencakup pengumuman serangkaian sanksi baru terhadap entitas dan individu yang terkait dengan Iran, sekaligus memperingatkan negara-negara lain agar tidak mempertahankan hubungan ekonomi apa pun dengan Teheran.
"Tidak ada negosiasi (dengan Iran) yang sedang berlangsung saat ini, dan situasi ini akan berlanjut sampai presiden merasa bahwa mereka mungkin bersedia duduk di meja perundingan secara serius dan bermakna. Kami belum melihat hal itu terjadi," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah wawancara.
Keengganan Washington untuk kembali ke nota kesepahaman (MoU) bulan Juni kemungkinan akan mempersulit proses diplomatik, karena Iran bersikeras bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dimungkinkan jika AS mematuhi ketentuan perjanjian tersebut. Kedua belah pihak secara terpisah telah menyatakan kendali atas jalur air yang vital ini.
"Amerika Serikat pada dasarnya mengendalikan Selat Hormuz, yang tetap terbuka," kata Leavitt.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)
Lalu lintas di Selat Hormuz turun
Namun, data lalu lintas pelayaran tampaknya bertentangan dengan klaim tersebut. Menurut Kpler, lima kapal melintasi selat itu pada Rabu, turun dari tujuh kapal pada hari sebelumnya. Serangan di wilayah tersebut juga terus menimbulkan ancaman.United Kingdom Maritime Trade Operations pada hari Kamis menyatakan telah menerima laporan mengenai sebuah kapal tanker minyak yang terkena proyektil tak dikenal saat melintas ke arah timur di selat tersebut.
Laporan awal pekan ini sempat mengindikasikan potensi perbaikan hubungan AS-Iran. Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan kerangka kerja gencatan senjata baru yang akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, laporan media menyebutkan bahwa Iran dan Oman sedang mendekati kesepakatan mengenai rute pelayaran komersial sementara melalui Selat Hormuz, meskipun Teheran memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut mungkin tidak serta-merta mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran itu.
Secara terpisah, Pakistan juga mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan damai dengan Iran, sementara Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran pada hari Kamis.
Stok minyak mentah komersial AS meningkat
Harga minyak pada Rabu juga tertekan oleh data pemerintah AS yang menunjukkan peningkatan moderat dalam cadangan minyak mentah komersial.Menurut Energy Information Administration (EIA), persediaan minyak mentah komersial AS meningkat sebesar 100 ribu barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus menjadi total 428,9 juta barel, angka yang tetap mendekati level tertinggi sejak 29 Mei. Sebelumnya, diperkirakan akan terjadi peningkatan sebesar 597 ribu barel.
Secara keseluruhan, persediaan termasuk SPR turun sebesar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 21 Agustus menjadi total 718,6 juta barel, demikian dilaporkan EIA. Angka tersebut merupakan level terendah sejak April 1984.