Sejumlah Jenazah Korban Banjir Nepal Ditemukan Hanyut di Wilayah India

Jenazah korban banjir Nepal ditemukan hingga wilayah India. (Anadolu Agency)

Sejumlah Jenazah Korban Banjir Nepal Ditemukan Hanyut di Wilayah India

Willy Haryono • 29 August 2026 19:03

Kathmandu: Sejumlah jenazah korban banjir bandang dan longsor di Nepal ditemukan hanyut hingga lebih dari 160 kilometer di wilayah India.

Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk mencari korban tewas dan hilang di tengah tantangan cepatnya pembusukan jenazah.

Dikutip dari Independent, Sabtu, 29 Agustus 2026, sedikitnya delapan jenazah telah ditemukan di negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar, India, yang berbatasan langsung dengan Nepal. Jenazah tersebut ditemukan lebih dari 100 mil dari sumber bencana.

Empat jenazah ditemukan di sungai di Distrik Maharajganj, Uttar Pradesh. Pejabat setempat mengatakan kondisi jenazah telah mengalami pembusukan parah dan kini berada di kamar jenazah rumah sakit untuk menunggu proses identifikasi.

Tiga jenazah lainnya ditemukan di Sungai Gandak di Uttar Pradesh. Satu jenazah tambahan ditemukan di sungai yang sama dekat Bendungan Valmiki Nagar di Bihar.

Satu jenazah lainnya ditemukan di Provinsi Lumbini, Nepal, sekitar 250 mil atau 400 kilometer dari Distrik Rasuwa yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.

Pihak berwenang mengatakan sebagian besar jenazah yang ditemukan tiga hari setelah bencana telah mengalami pembusukan sehingga sulit dikenali. Untuk mengurangi risiko kesehatan dan potensi penyebaran penyakit, jenazah akan segera dimakamkan setelah proses hukum dan identifikasi dilakukan.

Pemerintah Distrik Chitwan mengatakan sampel DNA akan diambil dari jenazah sebelum dimakamkan.

Identifikasi Jenazah Jadi Tantangan

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan tingginya suhu dan kelembapan mempercepat proses pembusukan jenazah.

Menurut Khanal, Nepal tidak membutuhkan bantuan internasional tambahan untuk operasi pencarian dan penyelamatan secara umum. Namun, pemerintah membutuhkan dukungan khusus untuk mengevakuasi orang yang masih terjebak di terowongan, memulihkan jaringan transportasi dan komunikasi yang rusak, serta melakukan identifikasi jenazah melalui tes DNA dan penyimpanan jangka panjang.

"Kami telah mengajukan permintaan untuk layanan khusus dan bantuan teknis di bidang yang kami tidak memiliki cukup keahlian dan pengetahuan teknis," kata Khanal kepada Reuters, Jumat kemarin.

Jumlah korban tewas akibat bencana di Nepal dan Tibet telah mencapai 633 orang, sementara hampir 3.000 orang masih hilang, menurut data otoritas pada Sabtu.

Sedikitnya 540 warga negara asing termasuk dalam daftar orang yang masih hilang. Sebagian besar di antaranya merupakan peziarah asal India.

Operasi pencarian dan penyelamatan kembali dihentikan sementara pada Sabtu akibat hujan dan kabut tebal di Distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang paling parah terdampak.

Pejabat senior Rasuwa Narendra Pariyar mengatakan fokus sementara dialihkan untuk menyediakan transportasi darat bagi para peziarah yang telah diselamatkan menuju Kathmandu.

Lebih dari 5.000 personel militer dan kepolisian dikerahkan untuk mencari korban dan penyintas di berbagai wilayah Nepal.

Operasi sebelumnya juga sempat dihentikan karena kekhawatiran danau yang terbentuk di perbatasan Nepal-Tiongkok akibat material longsoran dapat meluap ke sungai Lhende Khola dan Trishuli.

Namun, otoritas Tiongkok menyatakan risiko tersebut telah berkurang setelah citra satelit menunjukkan air perlahan mengalir melalui material yang membendung aliran sungai.

India dan Tiongkok Kirim Bantuan

India telah mengirimkan tiga penerbangan yang membawa sekitar 60 ton bantuan ke Nepal, termasuk selimut, obat-obatan, makanan, dan tablet pemurni air.

India juga menawarkan pengerahan pasukan tanggap bencana, jembatan prefabrikasi, serta tim teknis untuk membantu memulihkan konektivitas di wilayah terdampak.

Sementara itu, Tiongkok menyerukan bantuan darurat untuk wilayah Nepal yang terdampak bencana serta kerja sama internasional dalam operasi penyelamatan.

Bencana tersebut diperkirakan memberikan beban besar bagi perekonomian Nepal. Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai USD4 miliar hingga USD5 miliar, atau sekitar sepersepuluh perekonomian negara tersebut.

Banjir juga merusak sejumlah pembangkit listrik tenaga air yang secara keseluruhan menyumbang lebih dari 12 persen kapasitas pembangkitan listrik Nepal.

Bencana bermula pada Rabu ketika sebagian gletser dan lereng gunung di Langtang Lirung, kawasan perbatasan Nepal-Tibet, runtuh. Material es, batu, dan lumpur kemudian menghantam sungai dan memicu banjir besar yang membawa material hingga ke wilayah hilir.

Baca juga:  Inggris Kirim Tim Tanggap Darurat ke Area Terdampak Banjir Bandang di Nepal

(Willy Haryono)