Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Tertutup meski Ada Kesepakatan Koridor Oman
Muhammad Reyhansyah • 26 August 2026 17:49
Teheran: Iran dan Oman sepakat membentuk koridor transit sementara selebar sekitar 11 kilometer di Selat Hormuz untuk memungkinkan kapal melintas, namun, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut tidak berarti jalur strategis itu telah dibuka kembali untuk pelayaran komersial.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan koridor tersebut memungkinkan kapal melintasi sebagian Selat Hormuz melalui pengaturan yang dinegosiasikan dengan Oman. Meski demikian, Iran tetap mempertahankan kendali atas jalur tersebut.
"Selat Hormuz masih ditutup dan kami memiliki kendali penuh atasnya," kata Gharibabadi dalam wawancara dengan televisi Iran, dikutip dari The Arab Weekly, Rabu, 26 Agustus 2026.
Koridor sementara itu akan melewati perairan teritorial Iran saat kapal masuk, sementara sebagian jalur keluar juga berada di perairan Iran. Teheran dan Muscat akan menggelar pembicaraan teknis selama 30 hingga 60 hari ke depan untuk membahas kemungkinan pengaturan jalur permanen.
Gharibabadi menegaskan kesepakatan dengan Oman belum mengembalikan kondisi pelayaran seperti sebelum perang. Pengoperasian koridor juga disebut akan membutuhkan penutupan jalur selatan dan pembahasan mengenai alternatif dari rute tradisional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Sebelum konflik dimulai pada Februari, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global melewati jalur tersebut.
Iran juga membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah dibersihkan. Trump sebelumnya mengatakan seluruh ranjau telah disingkirkan atau diledakkan dan memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau baru.
Gharibabadi menantang klaim tersebut dan memperingatkan kapal penyapu ranjau Amerika Serikat yang memasuki kawasan itu akan dianggap sebagai target.
Pembukaan Selat Hormuz Masih Rentan
Ketegangan tersebut membuat pemulihan lalu lintas komersial masih rentan. Otoritas perdagangan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal pada Selasa dan mengalami kerusakan sekitar 17 kilometer di timur laut Ash Shishah, Oman, dekat pintu masuk Selat Hormuz.Teheran juga mengaitkan pembukaan penuh Selat Hormuz dengan penyelesaian konflik yang lebih luas dengan Washington. Gharibabadi mengatakan Amerika Serikat harus terlebih dahulu memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman Islamabad sebelum Iran mengambil langkah menuju pembukaan jalur tersebut.
"Pembukaan Selat Hormuz hanya akan terjadi sebagai imbalan atas berakhirnya perang di semua front, pencabutan blokade, dan penyelesaian status Yaman," ujarnya.
Sementara itu, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi dan upaya memulihkan lalu lintas energi di Hormuz. Washington mengklaim kemampuan Iran untuk mengendalikan jalur tersebut telah melemah, sementara Teheran tetap mempertahankan klaim bahwa keamanan dan lalu lintas di selat berada di bawah kendalinya.
Kesepakatan koridor Iran-Oman kini menjadi mekanisme terbatas bagi kapal komersial untuk melintas sembari kedua negara merundingkan pengaturan jangka panjang.
Namun, penegasan Iran bahwa Hormuz masih ditutup menunjukkan kesepakatan tersebut masih jauh dari pembukaan penuh yang diinginkan Washington dan pasar energi global.
Baca juga: Iran dan Oman Bahas Pembukaan Selat Hormuz, Siapkan Koridor Sementara