Angin Kering dari Australia Tingkatkan Potensi Karhutla di Bengkulu

Ilustrasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dok. Kementerian Kehutanan

Angin Kering dari Australia Tingkatkan Potensi Karhutla di Bengkulu

Silvana Febiari • 4 September 2026 22:44

Bengkulu: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini dipicu pola angin dari timur hingga tenggara yang membawa massa udara kering dari Australia.

"Kalau kita melihat dari citra, kita lihat bahwa angin masih berembus dari timur sampai tenggara, jadi artinya masih membawa uap kering dari Australia, menandakan kita masih di musim kemarau," kata Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno, dilansir dari Antara, Jumat, 4 September 2026

Luhur mengatakan pola angin yang membawa udara kering dari Australia perlu diwaspadai. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kebakaran di sejumlah wilayah Bengkulu selama musim kemarau.


"Nah kalau kisaran angin yang dibawa memang cukup kering dari Australia, sehingga itu menimbulkan banyak massa udara kering yang terbawa dari Australia. Nah ini kita harus waspadai, harus waspada, karena dapat memicu api begitu ya, karena uap keringnya," jelas dia.

Dia mengingatkan soal kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu dilakukan. Terutama pada wilayah yang berdasarkan pemantauan memiliki kemudahan terbakar tinggi.

Masyarakat diimbau menghindari aktivitas pembakaran. Apalagi, di wilayah-wilayah yang berada dalam kondisi mudah terbakar.


Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno. ANTARA/Boyke Ledy Watra

Sementara itu, BMKG juga memprediksi musim hujan di Provinsi Bengkulu baru akan mulai pada dasarian III Oktober 2026. Kondisi El Nino membuat awal musim hujan di Bengkulu berpotensi mengalami kemunduran sekitar tiga dasarian dibandingkan pola musim dalam kondisi normal.

Berdasarkan data periode 1991-2010, musim hujan di Bengkulu secara normal mulai terjadi pada akhir September. Namun, fenomena El Nino yang masih kuat menyebabkan masa kemarau berlangsung lebih panjang sehingga awal musim hujan ikut bergeser.

Kemunduran awal musim hujan tersebut perlu menjadi pertimbangan masyarakat agar bersiap menghadapi periode kemarau yang berlangsung lebih panjang dari kondisi normal, termasuk tentang potensi karhutla.

(Silvana Febiari)