Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran lahan di Jalan Senen, Kelurahan Sungai Rasau, Kecamatan Singkawang Utara, Kalimantan Barat. ANTARA/Narwati
Ini Alasan Karhutla di Kalbar Sulit Dipadamkan
Silvana Febiari • 3 September 2026 17:07
Pontianak: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih menjadi tantangan bagi petugas pemadam. Kondisi lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat api sulit dipadamkan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan mengatakan kebakaran di lahan gambut dapat menjalar hingga beberapa meter ke dalam tanah.
"Sampai saat ini, sebagaimana kami sampaikan tadi, bahwa lahan gambut menyebabkan sulitnya kebakaran ini dipadamkan," kata Berton dalam konferensi pers penanganan karhutla, Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, api pada lahan gambut dapat menjalar hingga kedalaman 4-5 meter di dalam tanah. Kondisi tersebut membuat petugas membutuhkan lebih banyak air untuk memastikan api benar-benar padam.
"Ini menyebabkan sulitnya untuk dibasahi, dipadamkan apinya sampai sepadam-padamnya," ujarnya.
Banyaknya kebutuhan air untuk memadamkan api di lahan gambut juga berdampak pada munculnya asap. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat menurun.
"Kita membutuhkan air banyak dan ini juga yang menyebabkan banyaknya asap, di mana ini menyebabkan visibility atau jarak pandang yang sedikit," tuturnya.
BNPB mencatat terdapat 46 titik api di Kalimantan Barat dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 528 hektare. Dari jumlah tersebut, tim gabungan telah berhasil memadamkan lebih dari 354 hektare.
"Kualitas udara masih berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer," ungkap Berton.
Penanganan karhutla dilakukan melalui operasi darat dan udara. Sebanyak 14.563 personel satgas darat dikerahkan untuk melakukan pemadaman di sejumlah lokasi.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan memaparkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (Dokumentasi/ YouTube BNPB Indonesia)
Selain pemadaman darat, satgas udara mengerahkan dua armada untuk melakukan patroli titik panas dan titik api. Informasi hasil patroli kemudian diteruskan kepada satgas darat untuk menentukan lokasi penanganan.
Petugas juga mengerahkan dua armada untuk melakukan water bombing. Dalam operasi tersebut, sebanyak 504.000 liter air dicurahkan dari udara untuk membantu memadamkan api di lahan yang terbakar.
"Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan melalui satu armada, dan total yang disemaikan sebanyak 800 kg dengan jam operasi yaitu 2 jam lebih. Ini kami tidak terlalu banyak melakukannya karena memang situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, yaitu bibit-bibit awan yang relatif kecil terdapat di Kalimantan Barat," jelas Berton.
Selain kondisi gambut, minimnya curah hujan juga menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Hari tanpa hujan yang panjang menyebabkan pertumbuhan awan hujan minim sehingga peluang turunnya hujan untuk membantu pemadaman menjadi terbatas.
"Satgas darat memprioritaskan 38 lokasi di sembilan kabupaten/kota dengan tambahan dukungan peralatan pemadaman untuk mengakses sumber air dalam menjangkau titik api," paparnya.