Balas Serangan di Bandar Abbas, IRGC Gempur Pangkalan Udara AS di Kuwait

IRGC mengklaim menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis, 28 Mei 2026. (Anadolu Agency)

Balas Serangan di Bandar Abbas, IRGC Gempur Pangkalan Udara AS di Kuwait

Dimas Chairullah • 28 May 2026 18:25

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menargetkan sebuah pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis pagi, 28 Mei 2026.

Iran menyebut serangan tersebut sebagai balasan langsung atas gempuran udara militer Washington di area dekat Bandara Bandar Abbas, Iran selatan.

Mengutip Anadolu, operasi balasan itu disebut berlangsung sekitar pukul 04.50 pagi waktu setempat.

“Tanggapan ini merupakan peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja. Jika diulangi, tanggapan kami akan lebih tegas,” demikian pernyataan resmi IRGC yang dirilis melalui kantor berita Tasnim.

Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut.

Sebelumnya, seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan pasukan Washington menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.

Militer AS kemudian menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang dituduh sedang mempersiapkan peluncuran drone kelima.

Pejabat tersebut mengklaim operasi militer Amerika Serikat bersifat defensif dan bertujuan mempertahankan gencatan senjata yang masih berlaku.

Trump Tidak Puas

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) pada awal pekan mengonfirmasi serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran.

Teheran mengecam operasi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyinggung mandeknya proses negosiasi dengan Iran. “Saya tidak puas dengan itu, tetapi kita akan puas. Atau, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Trump.

Ketegangan kawasan meningkat sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal serta menutup akses Selat Hormuz.

Gencatan senjata kemudian diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.

Trump selanjutnya memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap memberlakukan blokade pelayaran di kawasan strategis tersebut.

Baca juga:  IRGC Sebut Peluang Pecahnya Kembali Perang dengan AS Relatif Rendah

(Willy Haryono)