Menlu Sugiono saat menyampaikan National Statement di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, 26 September 2026. (webtv.un)
Menlu Sugiono Bawa Konsep Ketahanan Nasional Indonesia ke Sidang Umum PBB
Willy Haryono • 27 September 2026 06:05
New York: Menteri Luar Negeri Sugiono membawa konsep ketahanan nasional Indonesia ke Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, Sabtu, 26 September 2026 waktu setempat.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan ketahanan nasional sebagai fondasi bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan sekaligus berkontribusi di tingkat regional dan global.
Menlu Sugiono mengatakan gagasan tentang ketahanan nasional telah dipahami Indonesia sejak beberapa dekade lalu. Pada 1960-an, lanjut dia, Indonesia mengembangkan konsep ketahanan nasional untuk menjaga identitas, melindungi kedaulatan dan persatuan, serta mempertahankan pembangunan di tengah berbagai tantangan dan hambatan.
“Di jantung ketahanan kita adalah rakyat kita,” ucap Menlu Sugiono.
Ia mengatakan bahwa sebuah negara dapat disebut tangguh ketika masyarakatnya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Karena itu, ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan negara menghadapi ancaman, tetapi juga kondisi kehidupan masyarakat.
Menlu Sugiono memberikan sejumlah contoh. Ketahanan, kata dia, tercermin ketika keluarga mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, petani dapat berproduksi, pekerja memperoleh pekerjaan yang layak, serta anak-anak dapat belajar, tumbuh, dan memiliki kesempatan untuk memimpikan masa depan.
Ketahanan dan Keberagaman
“Bagi Indonesia, ini berarti membangun kemandirian yang lebih besar dalam pangan dan memperkuat ketahanan energi. Yang terpenting, ini juga berarti berinvestasi pada masa depan rakyat kita, memastikan anak-anak kita memperoleh pendidikan berkualitas dan memastikan rakyat kita memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar,” ungkap Menlu Sugiono.Selain aspek pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan, Menlu Sugiono mengaitkan ketahanan nasional dengan kekuatan ekonomi. Ia menyebut Indonesia terus membangun ekonomi yang mampu menghadapi guncangan sekaligus menciptakan peluang melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan industri, dan peningkatan kapasitas produktif.
Namun, ketahanan nasional menurut Menlu Sugiono tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan kebutuhan dasar. Kemampuan mengelola perbedaan dan menjaga persatuan juga menjadi bagian penting dari ketahanan Indonesia.
Ia mengatakan Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk telah belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus dihilangkan.
“Keberagaman bukan sesuatu yang harus diatasi. Keberagaman adalah sesuatu yang harus dikelola, dihormati, dan diubah menjadi kekuatan,” tutur Menlu Sugiono.
Menurutnya, Indonesia menjaga persatuan melalui partisipasi demokratis, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan. “Dari Aceh hingga Papua, dari Miangas hingga Rote, Indonesia adalah satu rakyat. Indonesia adalah satu bangsa,” tegas Menlu Sugiono.
Ketahanan Kolektif
Selain itu, Menlu Sugiono juga menghubungkan ketahanan nasional dengan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Ia mengatakan Indonesia terus memperkuat promosi dan perlindungan HAM melalui mekanisme nasional serta komitmen terhadap kewajiban HAM internasional.Bagi Menlu Sugiono, ketahanan nasional dan pemenuhan HAM berjalan beriringan. Ia menekankan bahwa HAM tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan kekerasan, tetapi juga dengan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
“Hak asasi manusia bukan hanya tentang ketiadaan kekerasan, tetapi juga tentang memastikan bahwa masyarakat memiliki pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan,” ucapnya.
Menlu Sugiono kemudian menarik konsep ketahanan nasional tersebut ke tingkat regional dan global. Ia menilai negara yang tangguh di dalam negeri memiliki kapasitas yang lebih besar untuk berkontribusi di luar negeri.
Indonesia yang memiliki ketahanan pangan, misalnya, dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan regional dan global. Begitu pula Indonesia yang memiliki ketahanan energi dapat berkontribusi lebih besar terhadap transisi energi global.
Sementara itu, ekonomi yang lebih kuat, menurut Menlu Sugiono, akan membuka peluang kerja sama dan kemakmuran bersama yang lebih besar.
“Inilah bagaimana ketahanan nasional menjadi ketahanan kolektif, dan inilah bagaimana ketahanan membantu kita memajukan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs,” ungkapnya.
Baca juga: Program Ketahanan Pangan jadi Manifestasi Kebermanfaatan untuk Masyarakat