Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Biro KLI Kemenkeu.
Pede BI Bisa Bikin Stabil Lagi, Purbaya: Mereka Jago Kendalikan Rupiah!
Husen Miftahudin • 28 January 2026 10:28
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini Bank Indonesia (BI) mampu mengendalikan tingkat nilai tukar rupiah pada 2026.
Adapun, nilai tukar rupiah telah bergerak menguat, dengan level terakhir Rp16.768 per USD pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, setelah sempat hampir menyentuh Rp17.000 dengan level Rp16.945 per USD pada Selasa, 20 Januari 2026.
"Saya pikir mereka cukup ahli dan saya akan serahkan ini ke bank sentral. Mereka cukup jago mengendalikan nilai tukar rupiah," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 28 Januari 2026.
Meski mengandalkan bank sentral, Purbaya menyatakan akan berkoordinasi secara aktif dengan otoritas moneter dalam upaya menjaga nilai tukar rupiah.
"Bank sentral akan menjaga nilai tukar rupiah dan kami akan berkoordinasi terus dengan bank sentral. Saya yakin (menguat) kan, Pak Gubernur tadi bilang menguat terus. Saya ikut dia aja," tambah dia.
| Baca juga: Purbaya Sebut Penguatan Rupiah-IHSG Bukan Cuma Efek Thomas Djiwandono |

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Rupiah dipastikan bakal menguat dan stabil lagi
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen BI untuk menstabilkan rupiah.
Menurut dia, faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah saat ini adalah faktor jangka pendek, salah satunya inflasi ekonomi yang terjadi karena kenaikan harga pangan atau volatile food. Hal tersebut terjadi karena adanya cuaca ekstrem serta bencana alam yang berdampak terhadap distribusi komoditas pangan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat inflasi, serta pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebanyak 5 kali sejak September 2024 menjadi 4,75 persen, sekaligus tetap membuka peluang adanya penurunan suku bunga lebih lanjut.
Perry mengatakan, pihaknya juga terus melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, termasuk di Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI pun melakukan intervensi di pasar tunai, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri.