Tim dokter BKSDA Aceh merawat anak gajah Yuna di PLG Saree, Aceh, Selasa (11/8/2026) ANTARA/HO-Kemenhut
Gajah Yuna Diduga Mati Akibat Virus EEHV di Aceh
Achmad Zulfikar Fazli • 12 August 2026 18:42
Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan kematian seekor anak gajah sumatra (elephas maximus sumatranus), Yuna, di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, Selasa malam, 11 Agustus 2026. Gajah Yuna diduga mati akibat Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Aceh Ujang Wisnu Barata menjelaskan kesehatan gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci itu drop sangat cepat. Berdasarkan diagnosa awal, kondisi ini dipicu serangan virus mematikan bagi anak gajah.
“Secara makroskopis, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan (hemoragik) pada organ pencernaan dalam. Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut," kata Ujang dalam keterangan tertulis, dilansir dari Antara, Rabu, 12 Agustus 2026.
Dia menyampaikan pada Selasa pagi hingga siang hari, Yuna masih terpantau aktif beraktivitas seperti biasa. Kondisi tidak biasa baru terlihat pada pukul 16.00 WIB, ketika mahout atau pawang gajah mendapati Yuna dalam keadaan lemas, mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.
Tim dokter hewan BKSDA Aceh dibantu mahout segera memberikan tindakan medis darurat berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi kesehatan Yuna terus menurun drastis hingga terjatuh lemas dan nyawanya tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB. Tim medis langsung melakukan prosedur nekropsi hingga proses pemakaman selesai pukul 00.30 WIB, Rabu, 12 Agustus 2026.
Sebelum kejadian, kondisi kesehatan Yuna berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi berkala per tiga bulan. Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026, menunjukkan Yuna dalam keadaan sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5, dengan skala ideal gajah jinak 5-7. Dalam dua hari sebelum peristiwa itu tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik.
%20ANTARA_HO-Kemenhut.jpeg)
Tim dokter BKSDA Aceh merawat anak gajah Yuna di PLG Saree, Aceh, Selasa (11/8/2026) ANTARA/HO-Kemenhut
Ujang menjelaskan gajah-gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, CRU Peusangan, maupun CRU Trumon selalu mendapatkan pemeriksaan rutin harian dan pemeriksaan kesehatan umum berkala.
EEHV merupakan virus herpes khusus yang menginfeksi gajah, terutama anak gajah berumur di bawah 14 tahun. Virus itu merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotheliu), menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam yang memicu syok fatal serta kematian mendadak dalam kurun waktu 24–48 jam, dengan tingkat kematian mencapai 80 persen.
Terkait kondisi gajah lain, pihaknya terus melakukan deteksi terhadap gajah berusia di bawah 14 tahun yang berada di wilayah kerjanya.
"Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut," ujar Ujang.