Ilustrasi Pexels
Potensi Pandemi Rendah, Ebola Masih Bisa Menyebar Lintas Negara
Muhamad Marup • 19 May 2026 13:50
Jakarta: Virus ebola kembali menyita perhatian publik usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status ebola di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern atau (PHAIC). Meski status tersebut bukan berarti pandemi global, tapi situasinya sangat serius karena terkait kedaruratan kesehatan masyarakat yang cukup meresahkan dunia.
"Situasi ini tentu sangat serius tapi penting juga diketahui bahwa ini bukanlah artinya ada pandemi global," ujar pakar epideiomologi dari Griffith University, Dicky Budiman, kepada Metrotvnews.com, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia menjelaskan, saat ini terjadi fenomena bahwa suatu wabah di satu negara dapat menyebar lintas negara. Banyak faktor pennyebabnya mulai dari mobilitas masyarakat yang tinggi, krisis lingkungan, hingga interaksi manusia dengan hewan liar yang meningkat.
"Ini yang membuat mereka menjadi hotspot outbreak ya. Nah saat ini karakter penyakit ebola ini sudah berubah dari lokal menjadi cenderung bukan hanya regional tapi juga global," jelasnya.
"Jadi fenomena ini ya kalau saya menyebutnya globalization of outbreak. Wabah lokal yang lebih mudah menjadi regional, lintas benua bahkan global," ucapnya.
Tingkat kematian tinggi
Dicky, menekankan, tingkat kematian atau fatality-rate virus ebola mesti diwaspadai. Rata-rata tingkat kematian yang bisa terjadi paling rendah 25% dan paling tinggi 90%."Artinya kalau ada 10 yang sakit, 9 meninggal. Yang paling buruk ya, ini tergantung strain dan kapasitas layanan kesehatan," katanya.
Ia mencontohkan, kasus ebola pada tahun 2014-2016 ada di Sierra Leone, Liberia, Guinea. Dari 28 ribuan kasus, setengah dari kasus yang terjadi mengalami kematian.
"Ini jadi hal yang mengguncang dunia ya di 2014-2016 itu," tuturnya.
Sebagai informasi, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan terdapat 13 kasus ebola yang telah terkonfirmasi. Selain itu, sebanyak 246 kasus belum terkonfirmasi telah teridentifikasi, sementara otoritas setempat juga menyelidiki kemungkinan kematian terkait wabah terhadap 65 orang lainnya.
Butuh kesiapan

Ilustrasi Pexels
Terkait situasi tersebut, Dicky tidak menyarankan Indonesia untuk menutup total pintu masuk dari negara luar. Peningkatan kualitas perlu dilakukan pada standar pengotatan dan screening pintu masuk negara dengan memberi perhatian khusus kepada kategori tertentu pelaku perjalanan.
"Jadi surveillance epidemiologi pintu masuk internasional bandara, pelabuhan, laut, jalur migrasi pekerja, jemaah haji juga umroh dan pelaku perjalanan internasional dari Afrika memang sudah harus dijaga betul tertata dari saat ini sampai ke depan," ungkapnya.
Ia menambahkan, kesiapan laboratorium BSL-3 dan BSL-4 serta sistem pengetesan harus ditingkatkan. Termasuk kesiapan rumah sakit dan tenaga kesehatan dalam menerapkan simulasi outbreak.
"Karena banyak pelajaran di masa pandemi negara itu gagal bukan karena virusnya terlalu kuat tapi sebetulnya karena sistem kesehatan terlambat bereaksi," terangnya.