Potensi Menyebar di Indonesia Rendah, Tingkat Kematian Ebola Harus Diwaspadai

Ilustrasi Pexels

Potensi Menyebar di Indonesia Rendah, Tingkat Kematian Ebola Harus Diwaspadai

Muhamad Marup • 18 May 2026 16:44

Jakarta: Virus ebola kembali menyita perhatian publik usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ebola di Kongo Public Health Emergency of International Concern (PHAIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang cukup meresahkan dunia.

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai, tingkat kematian atau fatality-rate virus ebola mesti diwaspadai. Rata-rata tingkat kematian yang bisa terjadi paling rendah 25% dan paling tinggi 90%.

"Artinya kalau ada 10 yang sakit, 9 meninggal. Yang paling buruk ya, ini tergantung strain dan kapasitas layanan kesehatan," ujar Dicky, kepada Metrotvnews.com, Senin, 18 Mei 2026.

Ia mencontohkan, kasus ebola pada tahun 2014-2016 ada di Sierra Leone, Liberia, Guinea. Dari 28 ribuan kasus, setengah dari kasus yang terjadi mengalami kematian.

"Ini jadi hal yang mengguncang dunia ya di 2014-2016 itu," tuturnya.

Sebagai informasi, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) melaporkan terdapat 13 kasus ebola yang telah terkonfirmasi. Selain itu, sebanyak 246 kasus belum terkonfirmasi telah teridentifikasi, sementara otoritas setempat juga menyelidiki kemungkinan kematian terkait wabah terhadap 65 orang lainnya.

Faktor Risiko Penyebaran

Dicky mengatakan potensi penyebaran ebola di Indonesia sangat rendah. Masyarakat diminta jangan panik, namun tetap harus menerapkan perilaku hidup sehat.

Ia menjelaskan virus ebola berbeda dengan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang menular melalui udara bebas. Ebola butuh kontak erat melalui cairan tubuh dan transmisinya juga relatif lebih lambat.

"Saat ini risiko penyebaran di Indonesia rendah sampai menengah tapi nyata ada dan ada potensinya, walaupun tidak tinggi," katanya.

Meski begitu, tetap ada beberapa faktor yang meningkatkan risikonya, seperti mobilitas internasional yang tinggi, urbanisasi di Afrika juga meningkat, konflik bersenjata yang menghambat adanya isolasi atau pengendalian, kasus lintas negara, dan khusus untuk strain, misalnya bundibugyo belum ada vaksin yang berlisensi.

"Risiko masuk ke Indonesia terutama lewat penerbangan internasional yang transit, pekerja migran, pelaut, pelaku perjalanan bisnis, ataupun kasus impor yang tidak terdeteksi," jelasnya

Ilustrasi Pexels

Dicky melanjutkan, bicara kemungkinan atau probabilitas terjadinya transmisi luas di Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding Covid-19 atau Influenza karena ebola perlu kontak intens dekat erat.

"Dan biasanya kalau pun terjadi outbreak lebih mudah dilokalisasi kalau kalau cepat terdeteksi dan responsnya cepat,"

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)