Biogas dan Solar Dryer House Mengubah Limbah Jadi Energi

Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang. Foto: dok istimewa.

Biogas dan Solar Dryer House Mengubah Limbah Jadi Energi

Ade Hapsari Lestarini • 14 February 2026 09:27

Sukabumi: Rumah Energi dan PT Insight Investment Management berkolaborasi meluaskan cakupan wilayah Desa Energi Insight. Kolaborasi ini memanfaatan fasilitas biogas rumah di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, serta Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
 
Aktivitas edukasi teknologi energi terbarukan berbasis komunitas ini juga merupakan bagian dari proyek Pro Women 3 yang didukung oleh pendanaan Ford Foundation. Peresmian ini menjadi langkah nyata dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal.
 
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyampaikan pembangunan berbasis energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
 
"Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga," kata dia.
 
Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional.
 
Melalui pengolahan biogas, limbah organik dapat diubah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

Pemanfaatan biogas berkontribusi kurangi ketergantungan LPG

 
Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan pendekatan teknologi tepat guna berbasis komunitas merupakan kunci keberlanjutan program.
 
"Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan," jelas Sumanda, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.

Pemanfaatan biogas ini berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG serta berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO?e per tahun. Selain itu, residu biogas dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat yang mendukung pertanian ramah lingkungan.

Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem hadir sebagai solusi atas persoalan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka. Teknologi pengering berbasis energi matahari ini dirancang untuk menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan bernilai jual lebih tinggi.

Melalui peresmian biogas dan Solar Dryer House ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya. Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi, serta dapat meningkatkan perekonomian di dua desa tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)