Rusia Luncurkan 1.000 Drone ke Ukraina dalam Sehari

Kondisi bangunan di Ukraina yang rusak akibat serangan drone. Foto: EFE

Rusia Luncurkan 1.000 Drone ke Ukraina dalam Sehari

Muhammad Reyhansyah • 25 March 2026 11:27

Kyiv: Rusia meluncurkan hampir 1.000 drone ke Ukraina dalam kurun waktu 24 jam, termasuk salah satu serangan siang hari terbesar sejak perang berlangsung.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang menunjukkan “kebejatan mutlak.” Angkatan udara Ukraina menyatakan bahwa Rusia menembakkan 550 drone pada siang hari, setelah sebelumnya meluncurkan 392 drone sepanjang malam.

Serangan berskala besar ini menewaskan sedikitnya delapan orang dan turut menghantam situs warisan dunia UNESCO di Kota Lviv.

Di Kota Ivano-Frankivsk, dua orang tewas dan sebuah rumah sakit bersalin mengalami kerusakan akibat serangan drone. 

Sementara itu, satu korban jiwa dilaporkan di wilayah Vinnytsia dalam serangan siang hari yang menyusul gelombang serangan malam terhadap kawasan permukiman di sejumlah kota, yang sebelumnya menewaskan lima orang.

“Ini adalah kebejatan mutlak, dan hanya seseorang seperti (Presiden Rusia Vladimir) Putin yang bisa menganggapnya menarik,” kata Zelensky merujuk pada serangan di Kota Lviv, yang berada jauh dari garis depan, seperti dikutip France24, Rabu, 25 Maret 2026.

Ia juga menegaskan bahwa “skala serangan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk benar-benar mengakhiri perang,” seraya berjanji bahwa Ukraina “pasti akan merespons setiap serangan.”

Dampak serangan Rusia
Serangan siang hari di pusat Kota Ivano-Frankivsk menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya, termasuk seorang anak berusia enam tahun, menurut kepala wilayah Svitlana Onyshchuk. Sekitar 10 bangunan tempat tinggal serta sebuah rumah sakit bersalin dilaporkan mengalami kerusakan.

Di wilayah Vinnytsia, satu orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka, menurut otoritas setempat.

Di Lviv, sedikitnya 13 orang dirawat di rumah sakit. Seorang jurnalis AFP melaporkan melihat kobaran api dari sebuah bangunan di dekat gereja abad ke-17 dan kompleks biara Bernardine yang terdampak serangan saat jam sibuk sore.

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api di sebuah gedung apartemen yang atapnya hancur dan jendelanya pecah akibat ledakan.

Di Kyiv, warga -,termasuk seorang ibu bersama balitanya,- terlihat berlindung di stasiun metro saat peringatan serangan udara berbunyi pada siang hari, sebuah kejadian yang jarang terjadi.

Pada malam sebelumnya, rudal dan drone Rusia menghantam kawasan permukiman serta infrastruktur transportasi dan energi di berbagai wilayah Ukraina. Lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan di wilayah Poltava, Kharkiv, serta Zaporizhzhia dan Kherson.

Serangan malam itu juga memutus jalur listrik penting yang menghubungkan Moldova dengan Eropa, memaksa negara tersebut menetapkan status darurat. Selain itu, jalur listrik lain menuju pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia juga terputus, menurut laporan Badan Energi Atom Internasional.

Situasi perang dan diplomasi
Di wilayah Kursk, Rusia, otoritas setempat melaporkan satu orang tewas dan 13 lainnya luka-luka akibat serangan Ukraina yang menghantam sebuah pertanian.

Juru bicara angkatan udara Ukraina, Yuriy Ignat, menyebut serangan ini sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terjadi pada siang hari.

“Dalam skala sebesar ini, ini pada dasarnya pertama kalinya. Saya tidak ingat ada serangan siang hari dengan jumlah drone sebanyak ini,” ujarnya.

Selama perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022, serangan udara biasanya dilakukan pada malam hari.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah kekhawatiran Ukraina akan menipisnya pasokan sistem pertahanan udara dari Amerika Serikat, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Upaya diplomasi juga mengalami hambatan. Putaran ketiga perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara Moskow dan Kyiv untuk mengakhiri perang terganggu oleh konflik di Timur Tengah.

Ukraina diketahui telah mengirim delegasi ke Amerika Serikat akhir pekan lalu untuk menghidupkan kembali proses negosiasi, namun belum membuahkan hasil.

Selain itu, Kyiv berupaya menukar teknologi dan keahlian anti-drone dengan rudal pertahanan udara konvensional yang sangat dibutuhkan, serta telah mengirim sekitar 200 pakar militernya ke negara-negara Teluk yang menghadapi serangan drone Iran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)