Haji dan Hajah

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Haji dan Hajah

Abdul Kohar, Media Indonesia • 21 April 2026 06:47

MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci. Mereka, gelombang I, memulai perjalanan suci itu dengan menginjakkan kaki di Madinah. Di kota tempat Rasulullah Muhammad berhijrah itu jemaah haji melakukan sejumlah ibadah tambahan yang penuh keutamaan, seperti berdoa di Raudah dan salat wajib 40 waktu (arba'in) di Masjid Nabawi.

Setelah itu, mereka bergerak ke Mekah untuk menjalankan serangkaian ibadah hingga puncaknya wukuf di Arafah bersama rombongan gelombang II yang langsung ke Mekah. Lalu, dari Arafah bermalam di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, kembali Mekah lagi, hingga perpisahan dengan Kabah lewat tawaf wada, sebelum bertolak kembali ke Tanah Air.
 


Begitu tiba di Tanah Air, para kerabat dan tetangga pun menyapa para jemaah dengan panggilan 'Haji' dan 'Hajah'. Ada yang memanggil 'Pak Haji', 'Bang Haji', 'Mas Haji', 'Kang Haji', 'Bu Hajah', 'Neng Hajah', 'Mbak Hajah', dan seterusnya. Sebagian orang menganggapnya itu sebagai 'gelar sah' yang menandakan orang itu sudah berhaji.

Konon, pada mulanya orang pulang dari Tanah Suci membawa oleh-oleh yang sederhana, seperti air zamzam, kurma, dan cerita. Cerita itu yang paling mahal sebab ia tidak bisa dibungkus plastik, tidak pula bisa ditimbang di bandara.

Di dalam cerita itulah terselip perubahan, mulai cara berjalan yang sedikit lebih hati-hati, cara berbicara yang agak ditimbang, dan cara memandang hidup yang, setidaknya, berniat lebih lurus. Lalu, masyarakat kita yang gemar memberikan nama pada perubahan menemukan satu panggilan, yaitu haji atau hajah.

Jadi, asal usul panggilan itu barangkali bermula dari rasa hormat. Orang yang telah menempuh perjalanan jauh, bukan sekadar jauh di peta, melainkan juga jauh di niat, dianggap telah mencapai sesuatu. Karena itu, ia diberi tanda. Seperti prajurit yang pulang dari perang atau pelajar yang kembali dari rantau.

Namun, seperti banyak tanda lainnya, panggilan itu pelan-pelan mengalami nasib yang sama. Panggilan itu menjadi lebih mudah diucapkan daripada dimaknai.

'Haji' tidak lagi selalu menunjuk pada perjalanan batin, tapi pada status sosial yang bisa disebut di depan nama. Ia menjadi semacam awalan kehormatan yang mirip gelar, tetapi tidak pernah benar-benar diakui sebagai gelar resmi.


Ilustrasi haji. Foto: Dok. Istimewa.

Menariknya, panggilan itu tidak pernah diminta, tetapi sering diharapkan. Ada yang menolak dengan halus, tetapi lebih banyak yang diam-diam memastikan orang lain tidak lupa menyebutnya. Di situlah panggilan mulai berjarak dengan asal usulnya.

Padahal, kalau kita tengok sejenak, perjalanan haji itu sendiri ialah latihan menanggalkan identitas. Pakaian dibuat seragam, gelar ditinggalkan, bahkan nama seakan tidak penting di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam irama yang sama. Namun, begitu pulang, identitas itu dipungut kembali, ditambah satu lagi di depan nama.

Terjadilah sesuatu yang agak lucu, perjalanan yang mengajarkan kesederhanaan justru melahirkan penanda baru yang bisa terasa istimewa. Tentu saja tidak ada yang salah dengan panggilan itu.

Apalagi, ia lahir dari niat baik, menghormati, mengenali, dan mungkin juga mendoakan. Namun, seperti semua yang baik, ia bisa berubah arah ketika terlalu sering dipakai tanpa dipikirkan.

Ada orang yang benar-benar menjadi lebih ringan setelah berhaji. Ia ringan dalam memaafkan, ringan dalam membantu, ringan dalam tidak merasa paling benar. Kepadanya, panggilan 'Haji' terasa kecil jika dibandingkan dengan perubahan yang ia usahakan.

Ada pula yang justru menjadi lebih berat, yakni berat dalam menjaga citra, berat dalam menjaga sebutan, dan kadang-kadang berat menerima jika dipanggil tanpa tambahan itu. Padahal, kalau mau jujur, panggilan itu hanyalah gema dari perjalanan yang sudah selesai. Ia bukan perjalanan itu sendiri.

Karena itu, mungkin asal usul 'haji' dan 'hajah' yang paling sederhana bukanlah gelar, bukan pula status, melainkan pengingat bahwa seseorang pernah berjalan jauh untuk mendekat, dan diharapkan tetap berjalan, meski tanpa disorot.

Sisanya, seperti biasa, bergantung pada kita, apakah panggilan itu akan menjadi doa yang hidup, atau sekadar tambahan kata yang lewat di depan nama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)