Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Anadolu Agency)
Prancis Tak Akan Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz Tanpa Persetujuan Iran
Muhammad Reyhansyah • 11 May 2026 10:33
Nairobi: Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu, 10 Mei 2026, menegaskan bahwa Paris tidak pernah mempertimbangkan pengerahan militer sepihak ke Selat Hormuz tanpa konsultasi dengan Iran.
Pernyataan disampaikan Macron sembari menekankan kembali kesiapan Prancis membantu pemulihan lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut.
"Pengerahan pasukan Prancis tidak pernah dipertimbangkan," kata Macron dalam konferensi pers di Nairobi bersama Presiden Kenya William Ruto, dikutip dari Anadolu, Senin, 11 Mei 2026.
Meski demikian, Macron menegaskan Prancis "siap" membantu memungkinkan kembali berjalannya lalu lintas maritim di Selat Hormuz "dengan koordinasi bersama Iran."
Pernyataan Macron muncul ketika Iran memperingatkan keberadaan angkatan laut Prancis dan Inggris di sekitar selat tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya mengatakan setiap pengerahan angkatan laut Prancis atau Inggris di sekitar Hormuz akan menghadapi "respons tegas dan langsung" dari angkatan bersenjata Iran.
Iran Soroti Kehadiran Kapal Induk Prancis
Terkait pengerahan kapal induk Prancis Charles de Gaulle menuju Laut Merah dan Teluk Aden, Gharibabadi mengatakan langkah tersebut merupakan "eskalasi krisis" dan bentuk "militerisasi jalur perairan vital."Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis pada Rabu mengumumkan bahwa Charles de Gaulle bersama kapal pengawalnya telah melintasi Terusan Suez pada 6 Mei menuju Laut Merah bagian selatan.
Menurut kementerian tersebut, pengerahan armada di dekat kawasan Teluk bertujuan untuk "menilai lingkungan operasional regional sebagai persiapan aktivasi" misi maritim multinasional yang diusulkan.
Pemerintah Prancis juga mengatakan kelompok kapal induk tersebut akan "memberikan opsi tambahan untuk keluar dari krisis guna memperkuat keamanan kawasan" serta membantu penggabungan sumber daya militer negara-negara mitra.
Ketegangan kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan Teheran terhadap Israel dan sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Saat ini, berbagai upaya diplomatik tengah berlangsung untuk membuka kembali jalur strategis tersebut, yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sekaligus mencegah pecahnya kembali konflik.
Baca juga: Iran Tuntut Kompensasi dari AS dan Tegaskan Kedaulatan atas Selat Hormuz