GHES 2026: PLN Perkuat Pengembangan Ekosistem Hidrogen Nasional untuk Dukung Swasembada Energi

Pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta. (Foto: Dok. PLN)

GHES 2026: PLN Perkuat Pengembangan Ekosistem Hidrogen Nasional untuk Dukung Swasembada Energi

Duta Erlangga • 24 July 2026 11:06

Jakarta: Pengembangan ekosistem hidrogen nasional terus didorong sebagai salah satu langkah mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. PT PLN (Persero) menyatakan komitmennya mengambil peran dalam pengembangan tersebut melalui berbagai inisiatif yang dipaparkan pada ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.

Pemerintah memandang hidrogen memiliki prospek strategis sebagai sumber energi alternatif yang dapat mendukung kemandirian energi nasional. Pengembangannya juga dinilai sejalan dengan upaya hilirisasi sumber daya dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hidrogen menjadi salah satu opsi penting di tengah dinamika geopolitik global. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena bahan baku hidrogen tersedia dari berbagai sumber di dalam negeri.

"Pengembangan hidrogen sejalan dengan arahan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Karena hidrogen ini dihasilkan dari air, gas, batu bara, biomassa, bahan baku hidrogen yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan lagi," ucap Bahlil.

Bahlil menambahkan, pembangunan ekosistem hidrogen dari hulu hingga hilir diyakini mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan daya saing industri, menarik investasi, serta membuka peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi baru. Namun, menurutnya, percepatan pengembangannya tetap memerlukan dukungan teknologi, pasar, investasi, dan regulasi yang memadai.

"Yang pertama adalah memang teknologi, yang kedua adalah pasar, yang ketiga memang kita butuh investor, dan yang keempat dalam rangka melakukan percepatan itu dibutuhkan regulasi. Nah pada konteks ini, silakan kita Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, sangat terbuka dalam rangka melakukan diskusi-diskusi, regulasi apa yang dibutuhkan untuk melakukan percepatan yang lebih efisien," jelas Bahlil.

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyampaikan, pengembangan hidrogen nasional didorong guna mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.


Selaras dengan agenda pemerintah, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan pengembangan hidrogen merupakan wujud komitmen PLN dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada energi nasional.

"Hidrogen merupakan solusi transisi dari energi fosil ke energi masa depan. PLN siap memimpin pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara terintegrasi melalui kolaborasi dengan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelaku industri, akademisi, hingga mitra internasional," jelas Darmawan.

Sebagai upaya konkret, sejak 2023 PLN telah mengoperasikan Green Hydrogen Plant (GHP) pertama di Indonesia yang berada di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta. Hingga saat ini, total sebanyak 24 GHP di lokasi tersebar se-Indonesia telah dioperasikan.

Darmawan menjelaskan, dari seluruh GHP tersebut, PLN dapat memproduksi hidrogen hijau hingga 203,6 ton per tahun, di mana sebanyak 75 ton per tahun dimanfaatkan untuk kebutuhan pendingin generator pembangkit. Sementara selebihnya, 128 ton per tahun siap digunakan untuk mendukung berbagai sektor strategis.

"PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen end-to-end di Indonesia," ujar Darmawan.

Tidak hanya menjadi produsen hidrogen hijau, lanjut Darmawan, PLN juga membangun infrastruktur pendukung lain, seperti Hydrogen Refueling Station (HRS) sebagai stasiun pengisian hidrogen dan Hydrogen Center sebagai pusat kompetensi hidrogen pertama di Indonesia. Kolaborasi pun terus dilakukan, salah satunya kerja sama produksi green ammonia dengan Pupuk Kujang, yang kemudian dimanfaatkan pada co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan, Banten.

Untuk mengakselerasi ekosistem green hydrogen di Indonesia, PLN juga melakukan beberapa joint study, seperti pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bersama KESDM, TransJakarta, dan DAMRI, serta joint study untuk produksi green hydrogen di Jambi dan Gresik bersama mitra dan Pupuk Indonesia.

Darmawan menambahkan, ke depan, PLN akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak guna mengakselerasi pengembangan ekosistem hidrogen di Tanah Air. Melalui langkah kolaboratif, pengembangan hidrogen nantinya dapat mendorong penciptaan peluang ekonomi baru, lapangan kerja ramah lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Bagi PLN, hidrogen bukan sekadar energi bersih, tetapi industri masa depan yang akan memperkuat ketahanan energi, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia. Karena itu, kami terus mempercepat kolaborasi agar Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi hidrogen global," pungkas Darmawan.

(Patrick Pinaria)