PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL

Sejumlah narasumber membuka Waste to Energy Talks 2026 di Jakarta yang membahas percepatan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). (Foto: Dok. PLN)

PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL

Patrick Pinaria • 21 July 2026 20:07

Jakarta: PT PLN (Persero) menyiapkan skema kontrak jual-beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) berdurasi hingga 30 tahun bagi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kepastian kontrak jangka panjang tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat investor terhadap proyek investasi hijau itu.

Seiring meningkatnya minat investor terhadap proyek tersebut, pemerintah turut mempercepat realisasi PSEL melalui penyederhanaan regulasi. Langkah itu diharapkan dapat mempercepat penanganan persoalan sampah di kawasan perkotaan sekaligus memberikan kepastian bagi investor.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah telah memangkas berbagai regulasi yang dinilai menghambat percepatan pembangunan proyek PSEL. Menurut dia, penyederhanaan aturan dilakukan agar proses implementasi dapat berjalan lebih efektif.

"Tugas saya cuma satu, regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin," ujar Zulkifli dalam acara 'Waste to Energy Talks 2026' di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.

Selain mendukung penyelesaian persoalan lingkungan, proyek PSEL juga dinilai memiliki potensi ekonomi melalui perdagangan karbon. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah dapat dikonversi menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi melalui pasar karbon nasional.

"Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp100 miliar - Rp150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon. Saya telah berhasil mengurangi emisi sekian juta atau sekian giga ton ekuivalen CO2, maka dijual ke pasar karbon. Nanti, dari KLHK akan dapat Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia dan itu dijual di pasar karbon," tutur Jumhur.
 



Pada kesempatan yang sama, Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir membeberkan tingginya antusiasme pasar terhadap proyek ini. Sebagai proyek pengelolaan sampah menjadi energi terbesar di dunia, PSEL disebut menarik minat besar dari berbagai institusi finansial dan investor global yang berlomba-lomba untuk menanamkan modal.

"Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, dan ini malah banyak juga nonbank himbara yang ingin masuk. Artinya kan semua partisipan semangat masuk ke proyek ini. Jadi, proyek ini secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia, makanya untuk orang yang berpartisipasi investment semua berlomba-lomba untuk hadir ke sini. Jadi, ya alhamdulillah antusiasmenya amat tinggi," ujar Pandu.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar menilai hadirnya program yang didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 ini menjadi angin segar bagi ekosistem ketenagalistrikan dan pengelolaan lingkungan di tanah air. Suroso mengatakan pihaknya siap menyerap daya listrik yang diproduksi oleh para mitra guna memperkuat portofolio sumber energi primer secara optimal.

"Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diambil oleh PLN sebagai offtaker. Para mitra tidak perlu khawatir, komitmen jangka panjang PLN sudah teruji di berbagai sektor pembangkit lainnya yang bahkan memiliki Power Purchase Agreement (PPA) lebih dari 30 tahun. Jaminan ini akan terjaga dengan sangat baik," tegas Suroso.


Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, dalam sesi diskusi panel menyampaikan bahwa Perseroan siap menyerap daya listrik yang diproduksi oleh para mitra guna program PSEL dapat memperkuat portofolio sumber energi primer secara optimal. (Foto: Dok. PLN)

Ke depan, proyek PSEL yang kini jadi rebutan investasi ini diharapkan tidak hanya sekadar menjadi solusi dalam mengatasi status darurat sampah di berbagai daerah, melainkan juga langkah taktis dalam mempercepat transisi energi baru terbarukan (EBT) milik PLN demi mengejar target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.

"Dalam konteks transisi energi dari berbasis termal ke energi baru terbarukan, PSEL menambah portofolio sumber energi kami sekaligus mengatasi darurat sampah. Karena itu, jika perlu program ini diterapkan di semua kota di Indonesia, PLN sangat siap," pungkas Suroso.

(Patrick Pinaria)