Protes pelajar di Prancis yang berujung rusuh. Foto: EPA
Macron Akui Keluhan Pelajar Prancis, Tuduh Demonstrasi Ditunggangi Kekuatan Politik
Muhammad Reyhansyah • 15 October 2026 11:05
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai keluhan para pelajar yang menggelar demonstrasi selama tiga pekan terakhir memiliki dasar yang sah.
Namun, ia juga menilai gerakan tersebut telah dimanfaatkan oleh kekuatan politik untuk kepentingan tertentu.
Menurut juru bicara pemerintah Maud Bregeon, Rabu, 14 Oktober 2026, Macron meminta pemerintah menyiapkan "respons konkret" terhadap keresahan para pelajar sekolah menengah dalam beberapa pekan mendatang.
Pernyataan itu disampaikan setelah rapat kabinet mingguan, sehari setelah demonstrasi solidaritas nasional menunjukkan dukungan besar terhadap para pelajar.
Sejumlah bentrokan terjadi di sela-sela demonstrasi di Paris dan Lyon. Polisi menembakkan gas air mata untuk merespons kericuhan tersebut.
“Kaum muda memiliki keresahan yang sah, tetapi keresahan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan berujung pada kekerasan di perkotaan,” kata Bregeon, mengutip pernyataan Macron dalam rapat kabinet.
Persaingan Politik Memanas
Demonstrasi berlangsung menjelang pemilihan presiden Prancis yang dijadwalkan pada April dan Mei tahun depan. Sejumlah partai oposisi memanfaatkan isu tersebut dalam posisi politik mereka.Jean-Luc Melenchon, kandidat presiden dari partai kiri radikal France Unbowed (LFI), turut menghadiri salah satu demonstrasi di Paris.
Sementara itu, partai sayap kanan National Rally (RN) yang dipimpin Marine Le Pen dan unggul dalam jajak pendapat menyatakan dukungan terhadap polisi yang dikerahkan untuk mengamankan demonstrasi. Partai tersebut juga menyalahkan para pelajar atas insiden kekerasan yang terjadi.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu menuduh gerakan pelajar telah "dimanfaatkan oleh sekutu France Unbowed ... demi kepentingan elektoral".
Tuduhan Kekerasan Polisi
Demonstrasi juga diwarnai tuduhan kekerasan oleh polisi. Para pelajar, serikat pekerja, kelompok hak asasi, dan orang tua menuduh aparat melakukan tindakan brutal terhadap demonstran. Sejumlah pelajar dilaporkan mengalami cedera berat.Keluarga seorang pelajar berusia 15 tahun yang kehilangan tangan setelah granat kejut polisi meledak pada Rabu mengatakan telah memulai proses hukum untuk menuntut penyelidikan yang "imparsial".
Pengacara keluarga tersebut, Bertrand Wattez, mengatakan Evan membantah keterangan polisi yang disampaikan jaksa bahwa ia berusaha mengambil granat tersebut sebelum meledak pada 5 Oktober. Evan juga membantah ikut serta dalam demonstrasi pelajar di kota Lens.
Menurut Wattez, ledakan itu tidak hanya menyebabkan Evan kehilangan tangan kiri, tetapi juga beberapa jari di tangan kanannya.
Lecornu mengatakan kepada parlemen pada Rabu bahwa sebanyak 248 pelajar terluka selama demonstrasi, "paling sering dalam insiden kekerasan di perkotaan". Selain itu, 937 polisi dan 149 tenaga pengajar juga dilaporkan mengalami cedera.
Ribuan Orang Ditangkap
Kementerian Kehakiman Prancis menyatakan sebanyak 7.950 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai pada akhir September. Sekitar 85 persen dari mereka merupakan anak di bawah umur.Dari jumlah tersebut, 2.735 orang telah dikenai dakwaan, sementara 26 orang ditahan dalam proses hukum.
Dalam insiden lain, seorang pelajar berusia 16 tahun mengalami kebutaan pada satu mata saat demonstrasi pada 30 September di luar sekolahnya di Tours, Prancis barat. Keluarganya menyalahkan polisi.
Jaksa di Tours pada Selasa malam menyatakan petugas yang terlibat telah didakwa atas dugaan penganiayaan dengan pemberatan.
Menurut Kementerian Dalam Negeri, polisi juga telah membuka penyelidikan internal atas 36 laporan dugaan kekerasan aparat terhadap demonstran.
Pada Rabu malam, serikat polisi Alliance mengumumkan telah mengajukan gugatan terhadap pemerintah karena dianggap "membahayakan nyawa" melalui instruksi yang mereka sebut saling bertentangan.
Dalam pernyataannya, serikat tersebut mengatakan para petugas merasa "dikhianati" oleh para pemimpin politik akibat instruksi yang tidak jelas serta pernyataan publik yang dinilai menunjukkan "empati terhadap para perusuh".
Pemerintah Siapkan Pengganti Guru
Pemerintah Prancis berharap demonstrasi pelajar mereda dalam beberapa hari mendatang seiring dimulainya libur sekolah selama dua pekan pada akhir pekan ini.Pemerintah menyatakan 2.000 dari 3.000 guru pengganti yang dijanjikan untuk 114 sekolah yang paling terdampak telah mulai bertugas.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan kepada parlemen bahwa sepertiga dari total 3.700 sekolah menengah atas di Prancis terdampak serius oleh demonstrasi. Sepertiga lainnya mengalami dampak dalam tingkat yang lebih terbatas.