7 Fakta Unik tentang Sumpah Pemuda

Patung WR Supratman menyanyikan Indonesia Raya di depan peserta Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda. (Foto: MTVN/Dheri A)

7 Fakta Unik tentang Sumpah Pemuda

Muhammad Adyatma Damardjati • 26 October 2026 17:33

Jakarta: Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Di balik momen bersejarah itu, terdapat sejumlah fakta unik yang jarang diketahui publik.

1. Istilah Sumpah Pemuda Tidak Ada di Dokumen Asli

Pada saat Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober 1928, istilah Sumpah Pemuda belum lahir. Dokumen asli hasil kongres tersebut diberi judul Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia.

Di dalam teks tersebut, frasa yang digunakan adalah Kerapatan ini memetoeskan, bukan bersumpah.

Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. (Dok Istimewa)

Istilah Sumpah Pemuda baru berkembang organik beberapa tahun setelahnya. Istilah itu menjadi populer karena dirasa lebih kuat dalam membakar semangat persatuan dan nasionalisme melawan penjajah Belanda.

2. Akal-akalan Tiga Gedung demi Mengelabui Mata-mata Belanda

Keputusan panitia membagi kongres ke dalam tiga sesi di tiga gedung berbeda bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan strategi pergerakan untuk menyebarkan konsentrasi massa dan mengelabui dinas intelijen Belanda, Politieke Inlichtingen Dienst, yang mengawasi ketat gerak-gerik para pemuda.

Rapat pertama membahas dasar persatuan digelar di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond dan rapat kedua mengulas masalah pendidikan di Gedung Oost Java Bioscoop. Rapat ketiga diadakan di Gedung Indonesische Clubgebouw untuk merumuskan hasil akhir dan memperdengarkan lagu kebangsaan.

3. Rumah Warga Tionghoa jadi Saksi Lahirnya Ikrar

Gedung di Jalan Kramat Raya 106 yang menjadi tempat pembacaan ikrar persatuan merupakan rumah milik seorang warga keturunan Tionghoa, Sie Kong Liong. Rumah itu awalnya disewakan sebagai asrama bagi para pelajar dan mahasiswa STOVIA serta Rechtshoogeschool.

Tokoh-tokoh seperti Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, hingga Akoes Salim kerap berkumpul di sana. 
Selain Sie Kong Liong, ada beberapa pemuda Tionghoa lain yang aktif terlibat langsung dalam kongres, seperti Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie.

4. Lagu Indonesia Raya lewat Biola W.R. Supratman

Sebelum kongres dimulai, polisi Belanda secara tegas melarang dikumandangkannya lagu yang mengandung unsur politik atau kata merdeka. Wage Rudolf Supratman yang sudah menyiapkan lagu Indonesia Raya harus memutar otak agar karyanya tetap bisa diperdengarkan.
 


Sugondo Djojopoespito selaku ketua kongres menyarankan lagu tersebut dimainkan secara instrumental. Gesekan biola W.R. Supratman sukses memukau seluruh peserta kongres tanpa memberikan alasan bagi polisi Belanda untuk membubarkan acara atas tuduhan provokasi politik.

5. Kata Merdeka Dilarang Keras di Dalam Kongres

Suasana di dalam ruang kongres sebenarnya sangat mencekam karena dijaga ketat kepolisian kolonial Hindia Belanda. Setiap pembicara diawasi langsung oleh para agen intelijen Belanda. Kata merdeka dilarang keras diucapkan dalam pidato maupun yel-yel.

Para pemuda harus menggunakan diksi alternatif yang lebih halus, seperti Indonesia Mulia atau Indonesia Raya untuk menghindari penangkapan langsung dan pembubaran kongres secara paksa.

6. Ditulis di Selipan Kertas, Rumusan Ikrar Lahir dari Bisikan Mohammad Yamin

Mohammad Yamin yang bertindak sebagai sekretaris kongres adalah sosok utama yang menyusun teks keputusan. Di tengah sesi rapat terakhir, saat pembicara memaparkan materi, Yamin menuliskan rumusan tiga butir ikrar pada selembar kertas.

Yamin menyodorkan kertas itu kepada ketua kongres, Sugondo Djojopoespito. Sambil berbisik, Yamin mengatakan memiliki rumusan resolusi yang lebih elegan untuk kongres.

Sugondo langsung menyetujuinya. Dia kemudian meminta persetujuan dari perwakilan pemuda lain sebelum dibacakan di depan seluruh peserta.

7. Bukan hanya Kaum Pria, Perempuan juga Ikut Bersuara

Kongres Pemuda II bukan hanya panggung bagi kaum pria. Kehadiran tokoh-tokoh perempuan, seperti Emma Poeradiredja, Siti Sundari, Poernomowoelan, dan Dien Pantow membuktikan kesadaran nasionalisme sudah setara.

Emma Poeradiredja bahkan menyuarakan tentang peran perempuan dalam memajukan bangsa. Sementara itu, Poernomowoelan berpidato mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan sebagai pilar utama pembentukan generasi masa depan yang merdeka.

(Achmad Zulfikar Fazli)