Pendiri Jong Java. (Dokumentasi/ Wikipedia)
Mengenal Tri Koro Dharmo, Organisasi Pemuda Kedaerahan Pertama di Indonesia
Silvana Febiari • 26 October 2026 11:55
Jakarta: Semangat persatuan di kalangan pemuda telah tumbuh melalui berbagai organisasi kedaerahan sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 1928. Salah satunya adalah Tri Koro Dharmo, organisasi kepemudaan yang berdiri pada 7 Maret 1915 dan dikenal dengan nama Jong Java.
Melansir Wikipedia, Tri Koro Dharmo didirikan oleh dr. Satiman Wirjosandjojo di Gedung STOVIA. Organisasi ini lahir karena sebagian pemuda menilai Boedi Oetomo terlalu berorientasi pada kalangan elite.
Nama Tri Koro Dharmo berarti “Tiga Tujuan Mulia”. Sejak awal, organisasi ini berupaya memperkuat persaudaraan antarpemuda dan menumbuhkan semangat untuk memajukan bangsa.
Baca Juga :
Tujuan Tri Koro Dharmo
Saat didirikan, Tri Koro Dharmo dipimpin oleh dr. Satiman Wirjosandjojo sebagai ketua, Wongsonegoro sebagai wakil ketua, dan Sutomo sebagai sekretaris. Sementara Muslich, Musodo, dan Abdul Rahman tercatat sebagai anggota.Organisasi ini memiliki sejumlah tujuan, antara lain mempersatukan pelajar pribumi, menumbuhkan minat terhadap kesenian dan bahasa nasional, serta meningkatkan pengetahuan umum anggotanya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Tri Koro Dharmo mengadakan pertemuan dan kursus, mendirikan lembaga pemberi beasiswa, menyelenggarakan pertunjukan kesenian, serta menerbitkan majalah bernama Tri Koro Dharmo.
Berbagai kegiatan itu menjadi sarana bagi para pemuda untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun hubungan persaudaraan.
Berubah Nama Menjadi Jong Java
Pada 12 Juni 1918, dalam kongres pertamanya di Solo, Tri Koro Dharmo berubah nama menjadi Jong Java. Perubahan ini dilakukan untuk memperluas jangkauan organisasi agar dapat merangkul pemuda dari Sunda, Madura, dan Bali.Meski demikian, keanggotaan organisasi masih didominasi pemuda Jawa. Hal itu terlihat dalam kongres kedua di Yogyakarta pada 1919, yang hanya dihadiri sedikit anggota yang tidak berbahasa Jawa.
Kongres tersebut membahas sejumlah persoalan penting, mulai dari gagasan milisi bagi bangsa Indonesia, upaya menjadikan bahasa Jawa lebih demokratis, pendidikan tinggi, kedudukan perempuan Sunda, sejarah tanah Sunda, hingga arti nasionalisme Jawa dalam pergerakan rakyat.
Pada pertengahan 1920, Jong Java menggelar kongres ketiga di Solo. Setahun kemudian, kongres keempat berlangsung di Bandung. Kedua kongres tersebut berupaya membangkitkan cita-cita Jawa Raya sekaligus mengembangkan rasa persatuan di antara suku-suku bangsa di Indonesia.

Kongres Jong Java. (smpn12jogja.sch.id)
Perkembangan Pemikiran dan Pengaruh Politik
Dalam kongres kelima di Solo pada 1922, Jong Java menegaskan organisasinya tidak akan mencampuri politik maupun aksi politik. Namun dalam perkembangannya, organisasi ini tetap mendapat pengaruh politik, terutama dari Sarekat Islam (SI) di bawah pimpinan Haji Agus Salim.Pengaruh tersebut semakin terasa dalam kongres 1924. Perbedaan pandangan mendorong sejumlah tokoh yang berpegang teguh pada asas Islam untuk keluar dari Jong Java dan membentuk Jong Islamieten Bond (JIB).
Pada 1925, wawasan Jong Java semakin berkembang. Organisasi ini mulai menyerap gagasan persatuan Indonesia dan cita-cita kemerdekaan. Orientasi perjuangannya pun semakin meluas, tidak lagi terbatas pada kepentingan pemuda Jawa.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan pemuda, yang mendorong mereka untuk melihat persatuan sebagai kepentingan bersama.
Bergabung dengan Indonesia Moeda
Memasuki 1928, Jong Java semakin siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya. Ketua Jong Java saat itu, R. Koentjoro Poerbopranoto, menegaskan pembubaran organisasi bukan berarti berakhirnya perjuangan para anggotanya, melainkan langkah demi kepentingan tanah air.Jong Java dibubarkan dan secara resmi bergabung dengan Indonesia Moeda pada 27 Desember 1929. Saat itu, jumlah anggotanya tercatat mencapai sekitar 25.000 orang.
Perjalanan Tri Koro Dharmo hingga menjadi Jong Java menunjukkan bagaimana organisasi yang berawal dari semangat kedaerahan berkembang menuju cita-cita persatuan Indonesia. Melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, dan pertemuan antarpemuda, organisasi ini turut menjadi bagian dari perjalanan panjang tumbuhnya kesadaran kebangsaan di Indonesia.