Seminar bertajuk “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda” di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Ketajaman Mata Berperan Penting dalam Permainan Sepak Bola, Ini Penjelasannya
Whisnu Mardiansyah • 4 November 2026 21:34
Jakarta: Kemampuan melihat dengan baik menjadi salah satu faktor penting dalam permainan sepak bola. Ketajaman penglihatan membantu pemain membaca pergerakan lawan, menemukan ruang kosong, mengamati posisi rekan setim, hingga menentukan keputusan saat menguasai bola.
Informasi visual yang diterima mata kemudian diproses otak sebelum diterjemahkan menjadi gerakan tubuh. Karena itu, kesehatan mata perlu mendapat perhatian sejak tahap pembinaan hingga pemain memasuki level profesional. Pemeriksaan secara berkala dan deteksi dini diperlukan untuk mengenali gangguan penglihatan agar pemain memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.
Dokter spesialis mata sekaligus Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics Prof Tjahjono D Gondhowiarjo menjelaskan dua mata pemain sepak bola harus berfungsi optimal dan sangat jelas. Hal itu untuk maksimal mengamati, lalu memperhitungkan ketepatan respons kepada bola yang hendak ia eksekusi selanjutnya.
Katanya, fakta menunjukkan jika kondisi mata pemain ada kelainan, maka kemampuan menangkap kejernihan fokus dan kejelasan dari bola yang bergerak atau kondisi lapangan serta perubahan cuaca juga akan mudah menurun.
"Kami ingin mendorong perhatian yang lebih menyeluruh terhadap fungsi penglihatan, sehingga gangguan penglihatan dapat dikenali sejak dini dan setiap pemain memperoleh pemeriksaan serta penanganan yang sesuai, mulai dari masa pembinaan hingga jenjang profesional,” ujar Prof Tjahjono dalam seminar bertajuk “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda” di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Salah satu topik yang dibahas dalam seminar tersebut ialah crossed laterality atau dominansi silang. Kondisi ini terjadi ketika mata dominan berada pada sisi yang berbeda dengan tangan dan/atau kaki dominan. Sebagai contoh, pemain memiliki mata kiri dominan, tetapi lebih banyak menggunakan kaki kanan.
Pemetaan karakteristik pemain dapat mencakup hubungan antara dominansi mata, tangan, dan kaki. Informasi tersebut menjadi salah satu aspek untuk memahami koordinasi antara penglihatan dan gerakan tubuh.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology pada 2018 terhadap 72 pemain elite dari Stade Rennais, Prancis, dan sembilan pemain amatir menemukan dominansi silang pada 53% kelompok elite. Sementara itu, kondisi serupa ditemukan pada 33% kelompok amatir.
Penelitian tersebut juga mengulas hubungan arah rangsangan visual dengan respons pemain, serta keterkaitan dominansi kaki dengan gerakan berputar. Temuan itu menjadi salah satu bahan pembahasan mengenai pentingnya mengenali karakteristik dominansi setiap pemain.
Prof Tjahjono menambahkan crossed laterality membantu mengenali hubungan antara dominansi mata dan koordinasi gerak setiap pemain. Informasi ini membantu melengkapi penilaian tentang cara pemain merespons rangsangan dari arah berbeda dan melakukan perubahan arah tubuh.

Pemain Persija Jakarta. Foto: Dok Instagram @persija
Bagi pelatih, hasil pemetaan dapat menjadi masukan untuk menyusun latihan sesuai kebutuhan individu, misalnya mengikuti bola sambil berputar, melatih respons dari kedua sisi, serta memperkuat keseimbangan dan kaki penopang.
"Perhatian juga perlu diberikan pada sisi yang respons atau gerakannya masih lebih lemah, kemudian dievaluasi bagaimana perkembangannya dalam permainan. Dengan demikian, pembinaan dapat mengembangkan koordinasi penglihatan dan gerak secara lebih terarah sesuai karakteristik serta kebutuhan posisi pemain,” jelas Prof Tjahjono.
Selain dominansi silang, pemeriksaan mata juga perlu mencakup sejumlah kemampuan visual lainnya. Aspek tersebut antara lain ketajaman melihat objek diam atau static visual acuity, kemampuan mengenali detail objek bergerak atau dynamic visual acuity, serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak.
Ketika bertanding, pemain harus mengikuti bola sambil berlari, mengalihkan fokus dari dekat ke jauh, serta memperkirakan jarak dan arah datangnya bola. Di sini, kerja sama kedua mata untuk melihat kedalaman, kemampuan mengenali objek di sisi pandangan, dan kepekaan terhadap kontras ikut berperan. Pandangan juga perlu tetap stabil ketika kepala dan tubuh bergerak. Hal ini didukung vestibulo-ocular reflex, yaitu refleks yang membantu mata mengimbangi gerakan kepala saat berlari atau berputar.
"Karena itu, ketajaman melihat objek diam perlu dinilai bersama kemampuan melihat objek bergerak dan koordinasi mata dengan tubuh, agar tenaga medis serta pelatih memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang kebutuhan pemain,” lanjut Prof Tjahjono.
Kemampuan Scanning Bantu Pemain Membaca Permainan
Kemampuan visual juga berperan ketika pemain mengikuti pergerakan bola atau tracking dan mengamati situasi di sekitarnya melalui gerakan menoleh atau scanning. Keterampilan tersebut membantu pemain mengumpulkan informasi sebelum mengambil keputusan di lapangan.
Dokter sekaligus analis sepak bola, Tommy Desky, menjelaskan pentingnya membangun kebiasaan mengamati situasi permainan sejak pemain mengikuti pembinaan di SSB. Pemain perlu mengenali posisi rekan setim, pergerakan lawan, serta ruang yang dapat dimanfaatkan sebelum menerima bola.
Katanya, pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang, posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan.
Dalam tekanan tinggi, waktu untuk memutuskan sangat singkat. Karena itu, scanning perlu dilakukan pada saat yang tepat dan disertai pemahaman terhadap apa yang dilihat, sehingga pemain dapat menentukan pilihan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak.
"Kebiasaan ini dapat dibangun melalui latihan sederhana di SSB menggunakan cone, angka, atau penanda, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung, rekaman, atau data dapat membantu mengenali keputusan yang sudah tepat dan aspek yang masih perlu dilatih,” jelas Tommy.
Pandangan serupa disampaikan Coach Indra Sjafri. Pelatih yang membawa tim nasional sepak bola Indonesia meraih medali emas SEA Games 2023 itu menilai kemampuan membaca permainan perlu dibentuk sejak tahap pembinaan.
“Kemampuan merespons dengan tepat berawal dari penglihatan yang baik. Dengan scanning, pemain lebih mudah membaca permainan dan menerapkan taktik yang diberikan pelatih. Karena itu, pembinaan di SSB dan klub perlu membangun kebiasaan membaca permainan sejak dini. Perhatian ini perlu berjalan bersama pengembangan kemampuan teknik, fisik, dan mental pemain,” katanya.
Indra juga mengapresiasi keterlibatan tenaga medis dalam pembahasan pengembangan kemampuan pemain. Menurut dia, pengetahuan kesehatan dapat menjadi bagian dari upaya melengkapi proses pembinaan sepak bola.
“Sepak bola membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu, dan pelatih perlu terbuka untuk belajar dari tenaga medis. Harapannya, pemeriksaan dan informasi kesehatan pemain semakin diperhatikan sejak di klub atau akademi, sehingga pembinaan memiliki dasar yang lebih lengkap. Pertemuan seperti ini membantu kami melihat bagaimana pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi perhatian dan dukungan yang relevan di lapangan,” imbuhnya.
Pemeriksaan kesehatan mata menjadi salah satu langkah untuk mengetahui kondisi penglihatan pemain. Hasil pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi kelainan refraksi, gangguan koordinasi kedua mata, maupun kondisi lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Melalui seminar tersebut, JEC Eye Hospitals and Clinics mendorong perhatian terhadap kesehatan mata sebagai bagian dari pembinaan pesepak bola. Pemeriksaan dan penanganan yang sesuai diharapkan dapat membantu pemain mengenali kondisi penglihatannya sejak dini, sekaligus mendukung kebutuhan mereka selama menjalani latihan dan pertandingan.