Haji Agus Salim. (iainutuban.ac.id)
Mengenal Agus Salim, Bapak Pandu Indonesia yang Menguasai Tujuh Bahasa Asing
Silvana Febiari • 3 November 2026 07:54
Jakarta: Nama Haji Agus Salim dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai diplomat dan pejuang kemerdekaan, sosok yang dijuluki The Grand Old Man ini juga mendapat julukan Bapak Pandu Indonesia.
Melansir Wikipedia, Lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884 dengan nama Masjhoedoelhaq Salim, Agus Salim tumbuh menjadi sosok yang dikenal cerdas, kritis, dan menguasai banyak bahasa. Kemampuannya berbicara dalam tujuh bahasa asing, yakni Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang, menjadi salah satu keistimewaannya.
Agus Salim merupakan putra pasangan Soetan Salim atau Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya pernah menjabat sebagai Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.
Baca Juga :
Daftar Pahlawan Nasional Berdasarkan Era Sejarah
Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III di Batavia. Saat lulus, ia tercatat sebagai lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda.
Meski memiliki prestasi akademik yang menonjol, perjalanan karier Agus Salim tidak hanya berkutat di dunia pendidikan. Setelah lulus, ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris di sebuah perusahaan pertambangan di Indragiri.
Pada 1906, Agus Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja di Konsulat Belanda. Di sana, ia juga memperdalam pengetahuan agama dengan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, yang merupakan pamannya.
Terjun ke Jurnalistik dan Sarekat Islam
Setelah kembali dari luar negeri, Agus Salim mulai aktif dalam dunia pendidikan, jurnalistik, dan politik. Pada 1912–1915, ia mendirikan sekolah dasar swasta berbahasa Belanda, Hollandsch-Inlandsche School (HIS).Pada 1915, ia bergabung dengan Harian Neratja sebagai wakil redaktur sebelum dipercaya menjadi ketua redaksi. Pada tahun yang sama, Agus Salim juga bergabung dengan Sarekat Islam dan menjadi salah satu pemimpin organisasi tersebut, setelah HOS Tjokroaminoto.
Karier jurnalistiknya terus berkembang. Pada 1925, ia memimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Dua tahun kemudian, ia bersama HOS Tjokroaminoto mendirikan surat kabar Fadjar Asia.
Ia juga pernah menjadi redaktur Harian Moestika di Yogyakarta serta mendirikan kantor penerangan umum Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).
Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media, di antaranya Neraca, Hindia Baroe, Fadjar Asia, Keng Po, Dunia Islam, dan Pujangga Baru. Gaya tulisannya dikenal tajam, sejalan dengan sikap kritisnya dalam menyampaikan gagasan.
Peran Penting dalam Perjuangan Kemerdekaan
Selain aktif sebagai jurnalis dan tokoh pergerakan, Agus Salim turut mengambil bagian dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Volksraad pada 1921–1924 dan anggota Panitia Sembilan yang berperan dalam merumuskan dasar negara serta naskah Pembukaan UUD 1945.Setelah Indonesia merdeka, kiprahnya berlanjut di pemerintahan. Agus Salim dipercaya menduduki sejumlah jabatan penting, termasuk Menteri Muda Luar Negeri pada Kabinet Sjahrir II dan III.
Pada 1947, ia berperan dalam upaya membuka hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir. Ia menjabat Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin dan Kabinet Hatta hingga 1949.
Di tengah situasi politik dan diplomasi yang penuh tantangan, Agus Salim menjadi salah satu tokoh penting dalam memperjuangkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia.
Perannya membuat ia dijuluki The Grand Old Man atau Orang Tua Besar. Julukan tersebut melekat pada sosoknya yang berpengaruh dalam dinamika politik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Dikenal sebagai Bapak Pandu Indonesia
Di luar kiprahnya dalam politik dan diplomasi, Agus Salim juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian terhadap gerakan kepanduan di Indonesia. Ia mendapat julukan Bapak Pandu Indonesia karena kontribusinya dalam perkembangan gerakan tersebut.
Kemampuannya dalam berbahasa, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan menjadikannya salah satu tokoh yang memiliki pengaruh luas di berbagai bidang.
Agus Salim juga dikenal menjunjung tinggi etika dalam dunia jurnalistik. Pada 1952, ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Meski dikenal memiliki tulisan dan kritik yang tajam, ia tetap menghormati batas-batas serta kode etik jurnalistik.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, Agus Salim lebih banyak mencurahkan perhatian pada pemikiran dan penulisan. Pada 1953, ia menulis buku berjudul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid Harus Dipahamkan? yang kemudian disempurnakan menjadi Keterangan Filsafat tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Soekarno dan Agus Salim dalam tahanan Belanda pada tahun 1949. (Dokumentasi/ Wikipedia)
Wafat dan Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Haji Agus Salim meninggal dunia di Jakarta pada 4 November 1954, dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.Pengabdiannya bagi bangsa kemudian mendapat pengakuan negara. Pada 27 Desember 1961, pemerintah menetapkan Haji Agus Salim sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961.
Namanya juga diabadikan sebagai nama stadion sepak bola di Padang, Sumatra Barat.