Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli. Foto: dok Istimewa.
Menaker: Link and Match Kunci Cetak Tenaga Kerja Kompeten
Husen Miftahudin • 8 October 2026 22:11
Jakarta: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menilai kolaborasi antara industri, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan kompetensi tenaga kerja. Sinergi tersebut diperlukan agar lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
"Kesenjangan antara kebutuhan industri dan keterampilan lulusan hanya bisa dijembatani lewat kolaborasi nyata. Kemitraan tripartit seperti ini adalah contoh konkret link and match, industri, asosiasi profesi, dan kampus bergerak bersama mencetak tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing," ujar Yassierli dalam Seminar Nasional HVAC-R 2026 di Auditorium Kampus Universitas Darma Persada (UNSADA), Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 8 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tripartit antara PT Panasonic Gobel Indonesia, APITU Indonesia, dan UNSADA. Kerja sama tersebut mengusung tema "Membangun Masa Depan Smart & Green Building: Sinergi Industri, Akademisi, dan Profesional dalam Membangun SDM Kompeten dan Berdaya Saing".
Yassierli mengatakan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai perkembangan teknologi akan terus meningkat. Karena itu, pembentukan kompetensi tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi perlu diperkuat melalui keterlibatan langsung industri dan asosiasi profesi.
Dalam kerja sama tersebut, UNSADA berperan menyiapkan lulusan teknik yang adaptif terhadap kebutuhan industri. APITU Indonesia mendorong penerapan standar kompetensi kerja bagi praktisi bidang pendingin dan tata udara, sedangkan Panasonic Gobel Indonesia mendukung transfer teknologi dan pengetahuan industri.
Ketiga pihak juga mengembangkan kolaborasi yang mencakup peningkatan kompetensi, riset, magang industri, sertifikasi profesi, hingga penyerapan tenaga kerja teknik.

(Seminar Nasional HVAC-R 2026 di Auditorium Kampus UNSADA, Jakarta. Foto: dok Istimewa)
Kebutuhan teknisi HVAC-R terus berkembang
Menurut Yassierli, sektor Heating, Ventilation, Air Conditioning, and Refrigeration (HVAC-R) memiliki peluang kerja yang terus berkembang. Kebutuhan tersebut muncul seiring pembangunan gedung pintar dan ramah lingkungan serta meningkatnya kebutuhan rantai dingin untuk sektor pangan dan logistik.
"Kebutuhan teknisi HVAC-R akan terus tumbuh, mulai dari gedung pintar dan ramah lingkungan hingga rantai dingin untuk pangan dan logistik. Ini peluang yang harus kita siapkan SDM-nya sejak di bangku kuliah," jelas dia.
Karena itu, keterhubungan antara pembelajaran di kampus dan kebutuhan industri dinilai penting untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja.
Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, Panasonic Gobel Indonesia meresmikan Training Center di UNSADA. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendekatkan mahasiswa dan teknisi dengan teknologi serta standar yang diterapkan industri.
Rektor UNSADA Agus Salim Sadikin mengatakan keberadaan Training Center memberikan akses kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
"Bagi UNSADA, kerja sama ini membuka akses bagi mahasiswa untuk belajar langsung dengan teknologi dan standar industri. Kami ingin lulusan kami tidak hanya kuat secara teori, misalnya memahami siklus refrigerasi dan perhitungan beban pendinginan, tetapi juga terampil di lapangan dan siap bekerja maupun berwirausaha," kata Agus.
Sementara itu, M. Arif Rachmat Gobel dari PT Panasonic Gobel Indonesia mengatakan Training Center menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan SDM nasional.
"Teknologi tata udara terus berkembang menuju sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Melalui Training Center ini, kami ingin mahasiswa dan teknisi mendapatkan pengetahuan produk dan teknologi terkini, sehingga Indonesia memiliki tenaga ahli yang siap mendukung pembangunan smart and green building," ujar dia.
Ketua Umum APITU Indonesia Agus Susilo menekankan pentingnya standar kompetensi bagi tenaga kerja di bidang pendingin dan tata udara. "Profesi di bidang pendingin dan tata udara menuntut keahlian dan keselamatan kerja yang terstandar," kata dia.
"Lewat kemitraan ini, para praktisi APITU siap berbagi pengalaman lapangan, membuka jejaring profesional, dan mendukung sertifikasi agar mahasiswa maupun teknisi mampu menjawab perkembangan teknologi dan regulasi, termasuk mutu rantai dingin," tutur Agus menambahkan.