Ilustrasi pariwisata di Labuan Bajo. Foto: Instagram @kemenpar.ri
Perluas Jaringan Bisnis, Pariwisata Indonesia Bidik Pasar Global
Husen Miftahudin • 17 October 2026 10:55
Jakarta: Penguatan kemitraan bisnis antarpelaku industri didorong untuk memperluas akses ekosistem pariwisata Indonesia ke pasar global. Upaya ini dilakukan melalui penjajakan kerja sama distribusi, pengembangan pasar, dan kolaborasi komersial dalam ajang Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (JWITF) 2026.
Pameran yang diselenggarakan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) tersebut berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Dalam ajang ini, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memperkenalkan portofolio lintas entitas untuk membuka peluang kemitraan dengan pelaku industri pariwisata domestik dan internasional.
Direktur Komersial InJourney Veronica H. Sisilia mengatakan penguatan jaringan kemitraan diperlukan untuk menghubungkan destinasi dan layanan pariwisata dengan pasar potensial. "Melalui JWITF 2026, kami membawa kekuatan ekosistem InJourney untuk membuka kerja sama yang lebih luas dengan pelaku industri," ungkap Veronica, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 17 Oktober 2026.
"Mitra dapat menjajaki berbagai kebutuhan bisnis, dari destinasi dan akomodasi hingga layanan pendukung perjalanan, dalam satu forum. Kami ingin pertemuan ini menghasilkan peluang yang dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama distribusi, penjualan, dan kolaborasi komersial yang berkelanjutan," jelas dia melanjutkan.
Perluas jaringan distribusi dan pasar wisata
Penjajakan kemitraan menyasar agen perjalanan, operator tur, perusahaan pengelola perjalanan korporat, pelaku meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE), serta jaringan distribusi pariwisata lainnya.
Melalui pertemuan bisnis, para mitra dapat menjajaki pengembangan penawaran perjalanan yang disesuaikan dengan karakteristik pasar dan kebutuhan pelanggan. Kerja sama ini juga diarahkan untuk memperluas kanal distribusi dan membuka akses ke pasar sumber wisatawan baru.
Portofolio yang diperkenalkan mencakup destinasi warisan budaya dan rekreasi, jaringan perhotelan, kawasan pariwisata, layanan pendukung aviasi, serta produk ritel Indonesia.
Destinasi yang ditawarkan antara lain Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sementara itu, jaringan InJourney Hospitality membuka peluang kerja sama di bidang akomodasi dan MICE.
Portofolio kawasan pariwisata turut mencakup The Mandalika, The Nusa Dua, dan The Golo Mori. Kombinasi berbagai layanan tersebut membuka peluang bagi mitra untuk mengembangkan paket perjalanan bagi wisatawan individu, rombongan, maupun segmen korporat.

(InJourney memperluas peluang kemitraan B2B melalui JWITF. Foto: dok InJourney)
Kolaborasi lintas sektor perkuat penawaran pariwisata
Peluang kerja sama juga mencakup sektor perhotelan melalui penjajakan tarif khusus dan skema komersial yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sementara itu, layanan InJourney Aviation Services diperkenalkan untuk menjajaki kebutuhan pendukung aviasi dan operasional.
Di sektor ritel, Sarinah membuka peluang pengadaan produk bagi pelaku industri pariwisata dan korporasi. Kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk memperluas cakupan kemitraan, mulai dari penjualan destinasi dan akomodasi hingga penyediaan layanan pendukung perjalanan.
Veronica mengatakan setiap pasar memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kerja sama dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi destinasi serta kebutuhan masing-masing mitra.
"Setiap pasar memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kami membuka ruang kerja sama yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra dan potensi masing-masing destinasi. Dengan menghubungkan portofolio InJourney dengan jaringan distribusi yang tepat, kami ingin memperbesar peluang bisnis sekaligus mendorong nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi ekosistem pariwisata Indonesia," tambah Veronica.
Pertemuan bisnis selama JWITF 2026 diarahkan untuk mengidentifikasi calon mitra dengan kebutuhan dan potensi komersial yang jelas. Peluang yang teridentifikasi selanjutnya dapat ditindaklanjuti melalui pembahasan kontrak, kemitraan distribusi, pengembangan produk perjalanan, maupun kolaborasi pemasaran.
Veronica menegaskan, keberhasilan forum bisnis tidak hanya diukur dari pertemuan selama pameran, tetapi juga dari peluang kerja sama yang dapat direalisasikan setelah acara berakhir. "Keberhasilan forum ini perlu dilihat dari kualitas hubungan bisnis yang dibangun dan peluang yang dapat diwujudkan bersama," ucap dia
"Kami ingin semakin banyak mitra membawa destinasi dan layanan Indonesia ke pasar mereka, sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan semakin luasnya manfaat pariwisata bagi masyarakat," tutup Veronica.