Ilustrasi. Foto: Dok Pexels
Peran Kunci Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Nilai Rupiah
Eko Nordiansyah • 20 October 2026 12:40
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah melalui kebijakan moneter. Upaya ini dilakukan untuk menjaga inflasi tetap rendah dan stabil serta mempertahankan kestabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara lain.
Mengutip laman resmi Bank Indonesia, stabilitas nilai Rupiah merupakan salah satu tujuan utama kebijakan moneter. Stabilitas tersebut mencakup kestabilan harga barang dan jasa yang diukur melalui inflasi serta kestabilan nilai tukar Rupiah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, BI menerapkan kerangka kebijakan moneter yang disebut Inflation Targeting Framework (ITF) sejak 1 Juli 2005. Kerangka ini menempatkan pengendalian inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter.
Dalam pelaksanaannya, BI menggunakan suku bunga kebijakan sebagai sinyal untuk memengaruhi aktivitas perekonomian. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu mengarahkan inflasi agar sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Peran suku bunga dalam menjaga stabilitas Rupiah
Salah satu instrumen utama BI dalam menjalankan kebijakan moneter adalah suku bunga BI-Rate. Perubahan suku bunga kebijakan dapat memengaruhi suku bunga perbankan, aktivitas kredit, serta kegiatan ekonomi masyarakat.Dalam kondisi normal, kenaikan BI-Rate dapat diikuti kenaikan suku bunga perbankan. Sebaliknya, penurunan BI-Rate dapat mendorong penurunan suku bunga perbankan.
Namun, dampak kebijakan moneter tidak terjadi secara langsung. BI menjelaskan bahwa proses transmisi kebijakan membutuhkan waktu atau time lag. Respons perbankan juga dapat berbeda, bergantung pada kondisi dan risiko perekonomian.
Pengendalian nilai tukar Rupiah
Selain mengendalikan inflasi, BI menjalankan pengendalian moneter untuk mengarahkan nilai tukar Rupiah agar bergerak stabil. Upaya ini dilakukan melalui operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing serta pengaturan Giro Wajib Minimum (GWM).Melalui pengendalian tersebut, BI berupaya menjaga suku bunga pasar uang antarbank agar bergerak di sekitar suku bunga kebijakan, sekaligus mengarahkan struktur suku bunga pasar uang sesuai dengan arah kebijakan moneter.
BI juga mengembangkan kerangka Flexible Inflation Targeting Framework untuk memperkuat integrasi kebijakan moneter dan makroprudensial, mempertimbangkan peran nilai tukar dan arus modal, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas moneter maupun sistem keuangan.
Dengan berbagai instrumen tersebut, kebijakan moneter BI diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung kestabilan nilai tukar Rupiah, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Natasya Dwi Putri)