Ilustrasi industri logistik. Foto: Medcom.id
Industri Logistik Mulai Perkuat Langkah Pengurangan Emisi
Husen Miftahudin • 30 October 2026 18:10
Jakarta: Industri logistik mulai mengonsolidasikan upaya pengurangan emisi karbon melalui pembentukan Asosiasi Pengusaha Green Logistik Indonesia (APGLI). Asosiasi ini disiapkan untuk membantu perusahaan menghitung jejak karbon, menyusun strategi mitigasi, dan memperkuat kolaborasi menuju operasional rendah emisi.
Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki mengatakan asosiasi menyiapkan sejumlah program, antara lain edukasi dan penghitungan karbon gratis, pengembangan Green Logistic Zone, webinar, serta publikasi.
APGLI juga mendorong perusahaan mencatat emisi dari aktivitas pengangkutan barang melalui jalur darat, laut, dan udara sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan emisi.
"Saya rasa untuk ke depannya, harus ada catatan emisi gas buang yang dihasilkan para pengusaha logistik dari angkutan barang baik darat, laut dan udara yang mereka lakukan," kata Netty di sela pengukuhan pengurus APGLI, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 30 Oktober 2026.
Selain penghitungan emisi, APGLI menjajaki kerja sama dengan Kementerian Kehutanan untuk mendukung penanaman pohon sebagai bagian dari upaya kompensasi karbon.
Namun, Netty mengakui biaya investasi masih menjadi kendala bagi perusahaan yang ingin beralih ke teknologi rendah emisi, terutama kendaraan listrik. Dia meminta pemerintah meninjau kembali tarif masuk truk listrik yang disebut mencapai 40 persen
"Kalau bisa dari Kementerian Keuangan atau Kemenko Perekonomian, meninjau ulang tarif 40 persen biaya masuk truk listrik. Kami sangat terkendala dengan harga. Tetapi kami ingin berubah menjadi hijau," ujar dia.

(Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki. Foto: dok Istimewa)
Manfaatkan AI demi tingkatkan efisiensi
Dewan Pakar APGLI sekaligus Guru Besar Supply Chain Management ULBI Prof. Agus Purnomo menilai industri logistik ke depan tidak hanya dituntut meningkatkan kecepatan dan efisiensi biaya, tetapi juga menekan emisi serta memperkuat ketahanan rantai pasok.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dinilai dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, mengantisipasi gangguan, dan memperbaiki pengambilan keputusan.
"Logistik masa depan bukan lagi sekadar soal kecepatan dan biaya, tetapi juga bagaimana menekan emisi karbon, membangun ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), dan memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi, mengantisipasi gangguan, serta mengambil keputusan yang lebih cerdas," kata Agus.
Sementara itu, Pakar Lingkungan Universitas Indonesia sekaligus Dewan Pakar APGLI Mahawan Karuniasa mengatakan perusahaan perlu menyusun rencana mitigasi berdasarkan sumber emisi masing-masing.
Menurut dia, perusahaan dapat memulai dengan mencatat aktivitas operasional dan konsumsi bahan bakar untuk menyusun data dasar atau baseline emisi. Pengurangan konsumsi bahan bakar dapat menjadi langkah awal karena berpotensi menekan emisi sekaligus biaya operasional.
Dewan Penasihat APGLI sekaligus Ketua Women in Logistics Nurmaria Sarosa menambahkan pembentukan asosiasi menjadi langkah konsolidasi industri dalam menghadapi tuntutan dekarbonisasi. Dia berharap APGLI dapat mendorong penyusunan peta jalan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) serta memperluas kolaborasi lintas negara.