Bahu-Membahu Atasi Karhutla di Merauke, TEP UGM dan Warga Bupul Indah Selamatkan Permukiman

Tim Ekspedisi Patriot UGM bersama warga bergotong royong memadamkan karhutla di Kampung Bupul Indah, Merauke. (dok. TEP UGM)

Bahu-Membahu Atasi Karhutla di Merauke, TEP UGM dan Warga Bupul Indah Selamatkan Permukiman

Patrick Pinaria • 20 September 2026 16:31

Merauke: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan transmigrasi Muting, Kampung Bupul Indah, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berhasil dipadamkan setelah Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (TEP UGM) turun tangan bersama warga setempat.

Aksi gotong royong ini berbuah manis setelah api yang sempat berkobar hingga berjarak 100 meter dari posko tim berhasil dipadamkan total. Titik api sempat melebar dan mengancam dua rumah warga di sekitarnya akibat vegetasi sabana yang mengering diterpa kemarau ekstrem, sehingga kobaran api begitu cepat menjalar.


Kobaran api terpantau meluas pada malam hari akibat kondisi vegetasi sabana yang mengering karena kemarau ekstrem, sehingga sempat mengancam permukiman warga sekitar. (dok. TEP UGM)

"Karhutla ini sangat dekat dengan pemukiman warga. Sejak semalam warga sudah bersiap mengamankan barang-barang penting," ujar Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM Alfi Syahri Lubis.

Pada awal kejadian, warga bersama tim berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Keterbatasan alat mendorong tim bergerak cepat melapor melalui kanal keamanan Tim Ekspedisi Patriot yang dipantau langsung oleh Kementerian Transmigrasi.

Laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan menerjunkan Satgas Gabungan Karhutla yang terdiri dari personel Polsek Elikobel, tim pemadam PT IJS, warga setempat, serta anggota TEP UGM. Berkat kolaborasi cepat ini, api berhasil didorong menjauh dan permukiman warga terselamatkan.

Meski permukiman berhasil diamankan, musibah ini menghanguskan delapan ladang transmigran seluas hampir 10 hektare berstatus Lahan Usaha 1. Tanaman rambutan, jeruk, hingga cabai yang sebagian besar sudah mendekati masa panen habis terbakar. 

Upaya penanganan dan langkah antisipasi terhadap risiko gagal panen akibat musibah kebakaran tersebut kini tengah dikoordinasikan oleh para pihak terkait.

"Musim kemarau ekstrem begini, warga memang inisiatif gotong royong gantian berjaga untuk melindungi tanaman satu sama lain, apalagi ini mau panen. Jadi kami swadaya saja, gotong royong yang kami andalkan," tutur Kasmanto, salah satu pemilik ladang terdampak.
 



Upaya penyelamatan lingkungan dan permukiman warga ini memperkuat arahan Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian serius pada pencegahan karhutla.

"Tidak boleh ada lagi pembakaran hutan dan lahan dengan alasan apa pun. Penanganan karhutla harus tegas, menyeluruh, dan diperkuat dengan pencegahan sejak dari sumbernya," tegas Presiden Prabowo.

Semangat melindungi lahan pertanian warga di lapangan turut mencerminkan penegasan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono tentang pentingnya menjaga kelestarian alam di tengah upaya pembangunan.

"Sumber daya alam harus kita olah menjadi nilai tambah dan pekerjaan. Tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan," kata Menko Agus Harimurti Yudhoyono.


Anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM berkoordinasi dengan warga setempat untuk memastikan titik api berhasil dikendalikan dan tidak merambat ke rumah-rumah warga. (dok. TEP UGM)

Aksi tanggap darurat ini menjadi cerminan nyata dari pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara kepada seluruh tim pendamping di lapangan.

"Saya memberikan satu dorongan kepada seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot: bergeraklah setiap hari. Waktu kita terbatas, hanya empat bulan. Berikan totalitas dan lakukan yang terbaik selama berada di kawasan transmigrasi. Harus ada sesuatu yang dikerjakan, ada dampaknya, dan ada manfaatnya," pesan Menteri Iftitah.

Langkah ini menjadi bukti hadirnya Tim Ekspedisi Patriot UGM dan Kementerian Transmigrasi yang bahu-membahu bersama warga, tak hanya menjaga keselamatan jiwa tetapi juga melindungi ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat di tanah transmigrasi. 

(Patrick Pinaria)