#OnThisDay 30 Januari: Lahirnya Pahlawan Nasional Putra Bali I Gusti Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai. (Arsip Nasional RI)

#OnThisDay 30 Januari: Lahirnya Pahlawan Nasional Putra Bali I Gusti Ngurah Rai

Whisnu Mardiansyah • 30 January 2026 09:12

Denpasar: Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis oleh peristiwa besar di Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Di Bali, perlawanan heroik juga terjadi, ditandai pengorbanan total seorang tokoh muda I Gusti Ngurah Rai. Ia menjadi simbol harga diri, kehormatan, dan tekad rakyat Bali mempertahankan kemerdekaan.

Nama Ngurah Rai kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Bali. Di balik nama besar itu, terdapat kisah perjuangan keras, penuh risiko, dan berakhir dengan pengorbanan tertinggi dalam peristiwa Puputan Margarana.

Tumbuh dalam Tradisi Kehormatan

I Gusti Ngurah Rai lahir di Carangsari, Badung, Bali, pada 30 Januari 1917. Ia berasal dari keluarga bangsawan, tetapi kehidupan Ngurah Rai tidak diarahkan pada kenyamanan status sosial. Sejak kecil, ia dikenal memiliki disiplin tinggi, keberanian, dan jiwa kepemimpinan.

Ia menempuh pendidikan militer pada masa kolonial dan sempat bergabung dengan pasukan bentukan Belanda. Pengalaman militer tersebut justru menjadi bekal penting ketika ia memilih berdiri di pihak republik setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Bagi Ngurah Rai, kemerdekaan bukan sekadar perubahan kekuasaan. Ia melihatnya sebagai kehormatan bangsa yang harus dipertahankan dengan segala cara.
 


Membentuk Kekuatan di Tanah Bali

Setelah Jepang menyerah dan Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia, situasi di Bali menjadi tegang. Belanda datang bersama pasukan NICA dengan tujuan mengembalikan kekuasaan kolonial.

Ngurah Rai kemudian membentuk pasukan Ciung Wanara, yang menjadi salah satu kekuatan militer republik di Bali. Ia tidak hanya berfokus pada perlawanan bersenjata, tetapi juga berusaha menyatukan kekuatan pejuang yang sebelumnya terpecah.

Ia sempat menuju Yogyakarta saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia untuk mendapatkan arahan strategi sebelum kembali memimpin perlawanan di Bali. Sepulangnya, Ngurah Rai menyusun strategi serangan terhadap posisi Belanda. Salah satu operasi awal dilakukan di Tabanan, sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap kekuatan kolonial.

Kekuatan yang dihadapi tidak seimbang. Belanda memiliki persenjataan modern, dukungan logistik kuat, serta bantuan militer dari luar Bali. Belanda terus berusaha melumpuhkan perlawanan rakyat Bali. Mereka melacak basis pasukan Ngurah Rai dan sempat menawarkan jalur negosiasi. Namun, Ngurah Rai menolak. Baginya, kemerdekaan tidak bisa dinegosiasikan.

Pasukan republik di Bali berada dalam kondisi sulit. Persenjataan terbatas, logistik minim, dan tekanan militer terus meningkat. Namun, semangat perlawanan tetap menyala. Dalam budaya Bali, terdapat konsep puputan perang sampai titik darah penghabisan demi kehormatan. Nilai ini menjadi fondasi keputusan paling bersejarah dalam hidup Ngurah Rai.

Puputan Margarana Akhir dari Sebuah Perlawanan

Puncak perjuangan terjadi pada 20 November 1946 di Desa Marga, Tabanan. Pasukan Belanda melancarkan serangan besar-besaran dengan dukungan pasukan tambahan dan kekuatan udara.

Dalam kondisi terkepung dan tanpa peluang menang secara militer, Ngurah Rai mengambil keputusan yang dikenang sepanjang sejarah melakukan puputan. Ia memerintahkan pasukannya bertempur sampai titik darah terakhir. Tidak ada kata menyerah. Hanya ada kehormatan dan kemerdekaan.

Dalam pertempuran tersebut, Ngurah Rai gugur bersama seluruh pasukannya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Pertempuran Margarana atau Puputan Margarana. Pengorbanan ini menjadi simbol kuat bahwa perjuangan rakyat Indonesia bukan sekadar soal kemenangan militer, tetapi soal harga diri bangsa.

Puputan Margarana menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Meski secara militer dianggap kekalahan, peristiwa ini menjadi kemenangan besar bagi semangat kemerdekaan Indonesia.

Perlawanan tersebut menunjukkan bahwa di daerah-daerah, semangat mempertahankan kemerdekaan sama kuatnya dengan di pusat pemerintahan republik. Ngurah Rai berhasil menyatukan kekuatan perlawanan Bali, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan karena perbedaan kepentingan dan kondisi geografis.

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui secara internasional, jasa Ngurah Rai semakin diakui. Pada 1975, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui keputusan presiden.

Namanya diabadikan menjadi nama Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar serta pernah tercetak dalam uang rupiah. Warisan terbesar Ngurah Rai bukanlah nama bandara atau monumen, melainkan nilai keberanian, kehormatan, dan pengorbanan.

*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)