Mahendra Siregar. Foto: Antara/Wahyu Putro.
Profil Mahendra Siregar, 'Pejabat Veteran' yang Mundur dari Bos OJK Usai IHSG Jeblok
Husen Miftahudin • 31 January 2026 13:28
Jakarta: Di kalangan pemerintahan, Mahendra Siregar merupakan nama 'pejabat veteran' yang malang melintang duduk di kursi pejabat. Maklum saja, sejak usianya belum genap 39 tahun pada 2001, ia sudah duduk sebagai Asisten Khusus Menteri Koordinator Perekonomian kala itu, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.
Sejak saat itu namanya semakin diperhitungkan mengisi sejumlah posisi penting di pemerintahan, mulai dari urusan diplomatik hingga persoalan perekonomian yang mampu ia lahap dan bereskan.
Sayang, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan Rabu dan Kamis (28-29/1), ia mengaku bertanggung jawab penuh dan menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mengutip dari berbagai sumber, berikut profil lengkap Mahendra Siregar.
Kehidupan pribadi dan pendidikan
Mahendra Siregar lahir dari pasangan orang tua yang berasal dari etnis Angkola dan Minangkabau. Ia lahir pada 17 Oktober 1962 di Bandung, Jawa Barat. Mahendra menikah dengan Ita Ritonga dan dari pernikahan keduanya mereka memiliki tiga orang anak.
Ia menempuh pendidikan tingkat sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Ekonomi Pembangunan dan lulus 1986. Sementara pendidikan pascasarjananya ditempuh di Universitas Monash, Australia, dan lulus pada 1991 untuk program Master of Economics.
| Baca juga: Ketua DK OJK Mahendra Siregar Ikut Mengundurkan Diri |
Perjalanan karier
Karier Mahendra muda dimulai setelah lulus kuliah, ia memulainya pada 1986 sebagai diplomat (atase) di Departemen Luar Negeri. Ia lantas ditugaskan sebagai Economic Third Secretary Kedutaan Besar Indonesia di London pada kurun waktu 1992–1995 dan duta informasi Kedutaan Besar Indonesia di Washington D.C. selama tiga tahun pada 1998–2001.
Mahendra kemudian bergabung dengan Kementerian Koordinator Perekonomian pada 2001. Ia dipercaya menjadi Asisten Khusus Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.
Mahendra kemudian menjadi Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional dari 2005 hingga 2009. Ia menempati jabatan itu dengan menteri yang berganti-ganti, yaitu Aburizal Bakrie (2005–2006), Boediono (2006–2008), dan Sri Mulyani Indrawati (2008–2009).
Pada bidang perbankan, Mahendra juga pernah menempati posisi sebagai direktur utama pada Indonesia Eximbank. Ia juga pernah menjabat komisaris beberapa perusahaan yaitu PT Dirgantara Indonesia (2003–2008) dan PT Aneka Tambang (2008–2009).

(Mahendra Siregar saat dipanggil ke Istana dan ditunjuk sebagai Wamenlu. Foto: MI/Ramdani)
Malang melintang jadi pejabat
Pada November 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepincut dengan rekam jejak Mahendra yang malang melintang mengurusi soal ekonomi dan politik luar negeri.
SBY lantas menunjuknya sebagai Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), mendampingi Mari Elka Pangestu yang duduk di kursi Menteri Perdagangan (Mendag) saat itu. Mahendra dipercaya di posisi tersebut pada 2009-2011.
Setelah sekitar dua tahun menempati posisi Wamendag, Mahendra dipercaya menempati posisi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) pada 2011-2013. Ia mendampingi Agus Martowardojo yang duduk sebagai Menteri Keuangan (Menkeu).
Setelahnya, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 2013 hingga 2014. Lalu di 2019, dia ditunjuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat.
Sebelum terpilih dan dilantik sebagai Bos OJK pada 20 Juli 2022, Mahendra juga duduk sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) pada 25 Oktober 2019 hingga 19 Juli 2022. Ia mendampingi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi yang menjabat selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), alias 10 tahun.