Ilustrasi smelter Freeport di Gresik. Foto: dok Metrotvnews.com
Hilirisasi Freeport Diapresiasi, Smelter Gresik Dinilai Jadi Lompatan Besar
Gervin Nathaniel Purba • 15 July 2026 19:28
Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI), anggota grup MIND ID, terus memperkuat hilirisasi tembaga nasional melalui pembangunan smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik. Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Komisi XII DPR karena dinilai mampu meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri sekaligus memperkuat rantai pasok industri pengolahan.
Investasi itu juga diproyeksikan meningkatkan kontribusi terhadap penerimaan negara hingga lebih dari Rp120 triliun per tahun ketika produksi kembali normal.
Anggota Komisi XII DPR Arif Riyanto Uopdana mengapresiasi berbagai langkah strategis yang dilakukan PT Freeport Indonesia, mulai dari penguatan kepemilikan nasional hingga keberlanjutan investasi jangka panjang.
"Saya apresiasi karena kemarin telah terjadi kesepakatan untuk investasi kembali sebesar 12 persen bersama pemerintah Indonesia. Ini juga menjadi terobosan baru terkait keberlanjutan usaha PT Freeport Indonesia, di mana izin usahanya diperpanjang sesuai usia cadangan," kata Arif dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Arif juga mengapresiasi komitmen perusahaan dalam menjalankan berbagai program sosial, khususnya di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, serta wilayah Papua secara umum.
Apresiasi serupa disampaikan Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi Partai Golkar Alfons Manibui. Menurut dia, Freeport telah memberikan kontribusi besar terhadap negara sekaligus menghadirkan manfaat bagi pembangunan daerah dan masyarakat Papua.
"Kami ingin berterima kasih kepada PT Freeport atas kinerjanya yang sampai hari ini terus memberikan manfaat bagi negara. Kami juga harus mengakui Freeport telah banyak memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan terutama masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan," kata Alfons.
Ia menilai kontribusi tersebut menjadi modal penting agar Freeport terus berkembang sebagai salah satu aset strategis nasional yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendorong pembangunan di Tanah Papua.
Smelter Gresik tingkatkan kapasitas pengolahan tembaga
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan pembangunan smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik menjadi bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional yang dijalankan pemerintah bersama MIND ID.
Smelter baru tersebut memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Bersamaan dengan penambahan kapasitas PT Smelting Gresik sebesar 300 ribu ton konsentrat per tahun, total tambahan kapasitas pengolahan mencapai 2 juta ton konsentrat.
Dengan kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebelumnya sebesar 1 juta ton, total kapasitas pemurnian konsentrat tembaga Freeport Indonesia di dalam negeri mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.
"Dengan beroperasinya smelter dan Precious Metal Refinery di Gresik, seluruh rantai nilai tembaga dari konsentrat, katoda tembaga, hingga logam mulia seperti emas dan perak kini dapat diproses di dalam negeri. Ini merupakan lompatan besar bagi hilirisasi mineral Indonesia," jelas Tony.
.jpg)
(Ilustrasi tambang Freeport di Indonesia. Foto: dok MI)
Hasilkan emas hingga logam mulia bernilai tinggi
Selain smelter, Freeport juga membangun Precious Metal Refinery (PMR) dengan kapasitas pengolahan 6.000 ton lumpur anoda per tahun untuk memurnikan emas, perak, serta logam kelompok platinum (Platinum Group Metals/PGM).
Fasilitas tersebut menggunakan teknologi double flash smelting and converting, sedangkan proses pemurnian logam mulia dilakukan melalui teknologi hydrometallurgy.
Melalui fasilitas hilirisasi tersebut, Freeport mampu memproduksi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga setiap tahun. Bersama produksi PT Smelting, total produksi katoda tembaga mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun.
PMR juga menghasilkan sekitar 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, serta 2.200 ton timbal setiap tahun.
Seluruh produksi emas direncanakan akan di-offtake oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sedangkan perak dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
Selain menghasilkan logam utama, fasilitas tersebut juga memproduksi sekitar 1,5 juta ton asam sulfat, 1,3 juta ton copper slag, dan 150 ribu ton gipsum per tahun. Sebagian besar produk samping tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.