Presiden Prabowo Subianto. Foto: Antara.
Presiden Prabowo: Negara Hemat Devisa Rp170 Triliun dari B50
Anggi Tondi Martaon • 9 July 2026 20:40
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengatakan penerapan mandatori biodiesel B50 akan memberikan dampak besar bagi penguatan ekonomi nasional. Salah satunya, menghemat devisa hingga Rp170 triliun atau sekitar USD10 miliar setiap tahun.
Prabowo menegaskan bahwa penghematan tersebut merupakan hasil kerja keras berbagai pihak dalam mendorong pemanfaatan energi berbasis sumber daya alam nasional. "Kita sekarang sudah bisa menghemat devisa uang keluar Rp170 triliun. 10 miliar dolar (AS) kita hemat," kata Prabowo dikutip dari Antara, Kamis, 9 Juli 2026.
Menurut Kepala Negara, penghematan sekitar USD10 miliar dari program mandatori biodiesel B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi. Sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
"Kita hemat di sini USD10 miliar (mandatori B50), nanti kita hemat di beberapa tempat. Penyelundupan timah, kita hemat USD2-3 miliar, dan sebagainya," ungkap Prabowo
Presiden kedelapan RI itu menegaskan berbagai langkah efisiensi tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional, meningkatkan ketahanan energi, dan memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

Ilustrasi Biodiesel (B50). Foto: warstek.com.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan penerapan mandatori biodiesel B50 dapat menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun. Sebab, mengurangi kebutuhan Indonesia mengimpor solar.
Angka tersebut meningkat dari penerapan kebijakan mandatori B40. Penerapan B40 mampu menghemat devisa sebesar Rp133,3 triliun.
Selain menghemat devisa negara, program B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO2 pada 2026.