Kembalinya Turki ke Program F-35 Bakal Perkuat Pertahanan NATO

Jet tempur F-35 milik Amerika Serikat (AS). Foto: Anadolu

Kembalinya Turki ke Program F-35 Bakal Perkuat Pertahanan NATO

Fajar Nugraha • 9 July 2026 16:18

Ankara: Sejumlah senator Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa peluang kembalinya Turki ke dalam program jet tempur F-35 akan menjadi langkah positif bagi Ankara maupun Washington.

Para senator AS juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas industri pertahanan NATO secara kolektif.

Berbicara kepada awak media di sela-sela KTT ke-36 Kepala Negara dan Pemerintahan NATO, Anggota Senior Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS sekaligus Ketua Bersama Kelompok Pengamat NATO Senat, Jeanne Shaheen, menyebutkan bahwa isu tersebut dapat bergulir maju jika solusi atas kekhawatiran pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki berhasil ditemukan.

Shaheen mengingatkan kembali bahwa Turki sebelumnya telah dikeluarkan secara resmi dari program jet tempur F-35 setelah memutuskan untuk membeli sistem pertahanan dari Rusia tersebut.

Shaheen menegaskan bahwa kembalinya Turki ke dalam proyek jet tempur generasi kelima itu akan berdampak positif bagi kedua belah pihak, dengan syarat ada solusi yang mampu mengeliminasi potensi ancaman sistem S-400 terhadap teknologi F-35 dan semua pihak mencapai kesepakatan.

"Kami masih memiliki pertanyaan yang harus dijawab sehubungan dengan apa yang diusulkan, dan kami belum mendapatkan jawaban tersebut," ujar Shaheen, nadi kita akan tunggu dan lihat apa yang terjadi," seperti dikutip Anadolu, pada Kamis, 9 Juli 2026.

Ketika ditanya oleh kantor berita Anadolu mengenai dinamika hubungan AS-Turki, Shaheen tidak menampik adanya kritik terhadap Turki di dalam Senat AS, namun ia memastikan bahwa Kongres tetap memandang positif hubungan strategis tersebut, terutama karena peran penting Ankara di dalam NATO. Ia mengatakan bahwa Kongres AS memiliki kesadaran yang sangat kuat mengenai betapa pentingnya infrastruktur industri pertahanan Turki serta kontribusi besarnya terhadap aliansi.

Shaheen juga menilai KTT NATO kali ini berlangsung pada momentum yang sangat krusial, dan ia berharap rangkaian diskusi yang ada dapat menegaskan kembali komitmen mutlak aliansi tersebut terhadap Ukraina. "Momentum berada di pihak Ukraina saat ini, dan kita perlu melakukan segala kemungkinan untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia agar bersedia maju ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan," kata Shaheen.

Ia mencatat bahwa seluruh sekutu NATO kini telah memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar 2 persen dan menambahkan bahwa belanja pertahanan pada tahun 2025 saja telah melonjak 20 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selain itu, Shaheen mengungkapkan bahwa banyak sekutu NATO yang sedang mempertimbangkan untuk berkontribusi dalam aktivitas pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

Dukungan tersebut dinilai akan sangat penting bagi upaya untuk mengakhiri perang dengan Iran melalui jalur negosiasi. Di sisi lain, Senator Mike Rounds menyampaikan bahwa perwakilan NATO yang ditemuinya selama KTT mengakui bahwa negara mereka masing-masing harus berbuat lebih banyak dan menyediakan anggaran yang lebih besar untuk pertahanan mandiri.

Rounds memuji Turki sebagai kontributor penting bagi NATO dan menegaskan bahwa penguatan kapabilitas militer Turki akan membawa keuntungan besar bagi aliansi tersebut. "Apa pun yang dapat kita lakukan untuk menyediakan sumber daya bagi mereka agar menjadi musuh yang lebih kuat dalam menghadapi intrusi Rusia di Eropa, maka akan semakin baik bagi kita semua. Salah satunya adalah dengan memiliki instrumen F-35 tersebut," tutur Rounds.

Ia menambahkan bahwa NATO telah mengalami perubahan besar sejak Rusia menyerang Ukraina, sehingga penguatan basis industri pertahanan aliansi harus diposisikan sebagai salah satu prioritas utama. Rounds menyatakan seluruh sekutu sangat dibutuhkan dalam upaya ini. Washington berharap Turki, bersama anggota NATO lainnya, dapat berkontribusi penuh dalam perluasan infrastruktur industri pertahanan aliansi.

"Mereka (Turki) adalah salah satu negara yang awalnya dipilih untuk berpartisipasi dalam manufaktur jet tempur F-35. Hal itu menunjukkan kompetensi yang kuat di bidang teknologi yang mendasari pemberian penghargaan tersebut kepada mereka sejak awal," jelas Rounds. Sementara itu, Senator Dick Durbin menilai bahwa KTT kali ini berhasil menunjukkan bahwa dukungan terhadap NATO tidak hanya terbatas dari pihak AS saja.

"NATO hidup dan dalam kondisi baik," tegas Durbin. Durbin memastikan bahwa dukungan untuk Ukraina dalam melawan agresi militer Rusia akan terus dilanjutkan dengan penuh tekad.

"Ada komitmen yang tidak ambigu untuk kemenangan Ukraina melawan invasi (Presiden Rusia) Vladimir Putin. Tidak ada keraguan, pengecualian, atau perdebatan mengenai hal itu," cetus Durbin. Ia menambahkan bahwa Ukraina telah mencapai kemajuan yang signifikan dengan memanfaatkan inovasi teknologi secara efektif, khususnya dalam beberapa bulan terakhir, di saat perang telah berkecamuk selama lebih dari empat tahun.

Senator Chris Coons turut menyampaikan bahwa para sekutu telah membuat kemajuan yang mencolok sejak KTT NATO tahun lalu di Den Haag, khususnya dalam bidang pertahanan dan penyediaan amunisi yang dibutuhkan oleh Ukraina.

"Eropa dengan cepat mempersenjatai diri kembali dan berinvestasi dalam memodernisasi basis industri pertahanan mereka, kita memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam hal produksi bersama," kata Coons.

Coons berharap konsep NATO 3.0 dapat berkembang secara terukur, metodis, dan bertahap selama beberapa tahun ke depan.

"Di saat musuh-musuh kita semakin mendekat satu sama lain, melengkapi, melatih, dan berbagi teknologi militer, kita membutuhkan NATO lebih dari sebelumnya," ujar Coons.

Ia melihat kapasitas industri pertahanan Turki telah dipamerkan secara nyata selama KTT berlangsung dan menyebut pertemuan tersebut sebagai sebuah perkembangan yang positif. Coons menambahkan bahwa KTT ini juga menawarkan peluang penting untuk mengatasi masalah menahun yang selama ini mengganjal hubungan strategis antara kedua negara.

Ketua Delegasi AS untuk Majelis Parlemen NATO, Mike Turner, menegaskan bahwa langkah-langkah anggaran pertahanan yang sedang dipertimbangkan di Kongres secara jelas menunjukkan dukungan kuat terhadap NATO maupun Ukraina.

"Kami tidak meninggalkan Ukraina," pungkas Turner yang menyatakan bahwa Washington terus bekerja setiap hari untuk mendukung Kyiv.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)