Ilustrasi Pexels
El Nino Tingkatkan Produktivitas Perikanan, Jenis Ikan Ini Mudah Ditangkap
Muhamad Marup • 3 June 2026 23:09
Jakarta: Fenomena El Nino identik dengan berbagai dampak negatif seperti kekeringan dan penurunan curah hujan. Padahal, fenomena tersebut juga dapat membawa peluang, terutama melalui peningkatan produktivitas perairan di sejumlah wilayah Indonesia.
Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, menjelaskan bahwa ketika El Nino berkembang, suhu laut di sejumlah perairan Indonesia cenderung menurun. Penyebabnya perpindahan massa air hangat ke bagian timur Samudra Pasifik.
"Pada saat El Nino, produktivitas perairan di selatan Jawa dan Sumatra meningkat karena konsentrasi klorofil menjadi lebih tinggi. Kondisi ini mendukung ketersediaan pakan alami dan berpotensi meningkatkan kelimpahan ikan," jelasnya dalam Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 yang diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN bersama University of Maryland, Selasa (2/6).
Peningkatan kandungan nutrien tersebut akan mendorong produktivitas primer perairan, yang menjadi fondasi rantai makanan laut. Dampaknya dapat dirasakan hingga tingkat sumber daya ikan yang menjadi target penangkapan nelayan.
Fenomena ini, lanjut Dwi, telah diamati pada sejumlah kejadian El Nino sebelumnya. Di perairan selatan Jawa, Bali, dan Sumatra menunjukkan peningkatan produktivitas biologis.
"Ditandai oleh tingginya konsentrasi klorofil di permukaan laut," tambahnya.
Tuna mudah ditangkap
Selain memengaruhi produktivitas perairan, El Nino juga dapat mengubah distribusi ikan pelagis besar, termasuk tuna. Meski sebagian populasi tuna mengikuti pergerakan massa air hangat ke arah timur Pasifik, perubahan struktur kolom air di sejumlah perairan Indonesia justru dapat memberikan keuntungan bagi aktivitas penangkapan.Dwi menjelaskan bahwa selama El Nino, kedalaman termoklin di beberapa wilayah perairan Indonesia dapat menjadi lebih dangkal. Kondisi ini membuat tuna berada lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah dijangkau oleh nelayan.
"Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Nino terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif," ujarnya.
Ikan tuna. Foto: dok MI/Panca Syukarni.
Butuh pemantauan dan riset
Meski demikian, Dwi mengingatkan bahwa perubahan kondisi oseanografi tetap perlu dicermati karena dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada setiap ekosistem laut. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap terumbu karang di wilayah tertentu akibat perubahan kondisi lingkungan laut.Karena itu, pemantauan oseanografi secara berkelanjutan menjadi penting. Hal ini bukan hanya untuk memahami risiko yang muncul saja.
"Tetapi juga untuk mengidentifikasi peluang pemanfaatan sumber daya laut secara lebih optimal dan berkelanjutan," tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Prof. A’an Johan Wahyudi, mengatakan bahwa riset kelautan memiliki peran strategis dalam mengungkap dinamika laut sekaligus potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, informasi ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian oseanografi dapat menjadi dasar bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut yang lebih berkelanjutan.
"Selain itu, penting juga kolaborasi antarlembaga riset untuk mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan laut dalam," ucapnya.