Kampanye penyetoran sampah kemasan. Foto: Dok istimewa
Dorong Ekonomi Sirkular, Ubah Sampah Kemasan Jadi Cuan
Eko Nordiansyah • 25 February 2026 13:58
Tangerang: Pertumbuhan sektor logistik dan e-commerce di Indonesia membawa konsekuensi meningkatnya volume sampah kemasan seperti kardus dan plastik pelindung. Tanpa sistem pengelolaan yang terintegrasi, limbah ini berpotensi menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA) serta pencemaran lingkungan.
ALVAboard bekerja sama dengan Rekosistem melalui kampanye penyetoran sampah kemasan yang bertujuan mendorong pengelolaan material secara lebih bertanggung jawab serta mendukung penerapan ekonomi sirkular. Kolaborasi ini membangun sistem pengelolaan sampah yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
CEO ALVAboard Alden Lukman mengatakan, kolaborasi ini merupakan langkah membangun sistem ekonomi sirkular di sektor kemasan. Melalui penyetoran dan pengelolaan yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi.
“Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen kami untuk berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan, yang akan terus kami kembangkan dan ukur seiring dengan peningkatan skala program ke depannya,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 25 Februari 2026.
Sebagai produsen solusi kemasan berbasis corrugated plastic untuk kebutuhan industri, ALVAboard memandang bahwa tanggung jawab perusahaan tidak berhenti pada tahap produksi dan distribusi. Siklus hidup material perlu dikelola hingga fase pasca-pemakaian agar dapat memberikan nilai berkelanjutan.
Melalui kerja sama ini, Alden menyebut, sampah kemasan ALVAboard, baik dari proses produksi maupun distribusi dapat disetorkan dan dikelola melalui sistem Rekosistem. Material yang terkumpul akan dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali sesuai standar pengelolaan yang berlaku.

(ALVAboard bekerja sama dengan Rekosistem melalui kampanye penyetoran sampah kemasan. Foto: Dok istimewa)
Sistem pengelolaan yang terintegrasi
Melalui jaringan pengumpulan dan fasilitas pemulihan material yang dimiliki Rekosistem, sampah kemasan ALVAboard yang disetorkan akan tercatat dalam sistem dan diproses sesuai standar pengelolaan. Pendekatan berbasis teknologi ini mendukung agar material dapat dikelola dengan lebih terpantau.“Setiap kemasan yang disetorkan tercatat, terlacak, dan diproses dalam alur pengelolaan daur ulang yang terintegrasi. Bersama ALVAboard, kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai sampah, tetapi kembali masuk ke siklus produksi melalui mekanisme yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Co-founder Rekosistem Ernest.
Bagi ALVAboard, kampanye ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun sistem produksi dan distribusi yang lebih bertanggung jawab. Produk kemasan ALVAboard dirancang untuk efisiensi dan daya tahan, termasuk solusi kemasan yang dapat digunakan berulang kali dalam sistem distribusi industri.
Dengan dukungan pengelolaan dari Rekosistem, material yang telah mencapai akhir masa pakai dapat kembali diproses dan dimanfaatkan dalam siklus ekonomi. Sebagai bentuk dorongan partisipasi, program ini juga memberikan insentif bagi pelanggan sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran.
Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan akan menerima Rp600 per kilogram. Khusus untuk material kemasan ALVAboard, nilai yang diterima dapat mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp1.400 per kilogram, sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular.
“Kerja sama ini juga membuka peluang bagi mitra industri ALVAboard untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah kemasan, menciptakan rantai nilai yang lebih berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” ungkap Alden.
Melalui kolaborasi ini, ALVAboard dan Rekosistem menegaskan bahwa kemasan tidak perlu berakhir sebagai beban lingkungan. Dengan sistem yang tepat dan insentif yang terukur, kemasan dapat menjadi bagian dari solusi untuk memperpanjang siklus hidup material, mengurangi emisi karbon, dan memperkuat ekonomi sirkular di Indonesia.