Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)
Menlu Iran Tuduh Aksi Protes Sengaja Dibuat Berdarah untuk Dalih Intervensi AS
Willy Haryono • 13 January 2026 16:10
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding gelombang protes nasional di negaranya sengaja didorong menjadi kekerasan berdarah guna memberi alasan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan intervensi militer. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi kepada para diplomat asing di Teheran pada Senin kemarin..
Araghchi mengatakan eskalasi kekerasan meningkat sepanjang akhir pekan, namun menegaskan situasi kini telah sepenuhnya terkendali. Ia menilai ancaman militer dari Trump mendorong kelompok yang ia sebut sebagai teroris untuk menyerang aparat keamanan maupun demonstran, dengan tujuan memancing campur tangan asing.
“Kami siap menghadapi perang, tetapi juga siap untuk dialog,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Iran mengklaim memiliki rekaman distribusi senjata kepada demonstran dan akan merilis pengakuan para tahanan terkait kekerasan tersebut.
Mengutip Al Jazeera, Selasa, 13 Januari 2026, pemerintah Iran kembali menegaskan bahwa gelombang protes yang kini memasuki pekan ketiga dipicu dan diperkeruh oleh unsur asing. Pernyataan itu disampaikan di tengah pemadaman internet nasional yang telah berlangsung selama beberapa hari. Pemerintah juga menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi aparat keamanan yang tewas dalam kerusuhan.
Sementara itu, Tasnim News Agency melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan tewas selama kerusuhan. Jumlah korban dari kalangan demonstran belum dikonfirmasi secara resmi. Kelompok oposisi Iran di luar negeri mengklaim angka korban jiwa jauh lebih besar, namun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Media pemerintah Iran melaporkan situasi relatif terkendali di sebagian besar wilayah. Aksi protes disebut hanya terjadi secara terbatas di beberapa kawasan Teheran dan sejumlah provinsi lain, sebelum dibubarkan aparat keamanan. Pada saat yang sama, unjuk rasa pro-pemerintah digelar di berbagai kota, termasuk di Teheran, yang dihadiri Presiden Masoud Pezeshkian.
Dari Washington, Trump menyatakan Amerika Serikat tengah mempertimbangkan berbagai opsi keras terhadap Iran, termasuk kemungkinan aksi militer. Menanggapi hal tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. (Keysa Qanita)
Baca juga: Trump Berlakukan Tarif 25 Persen ke Negara yang Berbisnis dengan Iran