Trump Berlakukan Tarif 25 Persen ke Negara yang Berbisnis dengan Iran

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Berlakukan Tarif 25 Persen ke Negara yang Berbisnis dengan Iran

Willy Haryono • 13 January 2026 15:10

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang melakukan transaksi perdagangan dengan Iran pada Senin, 12 Januari. Langkah agresif ini diambil Washington sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Teheran dalam menekan gelombang protes nasional yang dilaporkan telah menelan ratusan korban jiwa.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat final dan segera berlaku. Ia menyatakan setiap negara yang tetap berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25 persen atas seluruh aktivitas perdagangan mereka dengan Amerika Serikat.

Dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 13 Januari 2026, lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights (IHR), yang berbasis di Norwegia, melaporkan sedikitnya 648 orang tewas selama aksi demonstrasi, termasuk sembilan anak di bawah umur.

Namun, IHR memperingatkan jumlah korban sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi, bahkan bisa melampaui 6.000 jiwa menurut sejumlah estimasi, mengingat pemutusan akses internet secara nasional yang menghambat verifikasi independen.

Selain korban jiwa, otoritas Iran juga dilaporkan telah menangkap sekitar 10.000 orang. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa opsi militer, termasuk serangan udara, tetap tersedia sebagai langkah terakhir apabila Teheran terus melakukan kekerasan terhadap demonstran sipil, meskipun diplomasi masih menjadi prioritas utama Washington.

Menanggapi tekanan internasional, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengklaim aksi unjuk rasa pro-pemerintah yang dihadiri ribuan orang pada Senin sebagai bukti kemenangan rezim atas apa yang ia sebut sebagai campur tangan musuh asing. Khamenei menyebut gelombang protes sebagai rencana pihak luar yang dijalankan oleh tentara bayaran domestik.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya tengah menghadapi perang di empat front, yakni perang ekonomi, psikologis, militer dengan Amerika Serikat dan Israel, serta konflik melawan kelompok yang ia sebut sebagai teroris di dalam negeri. Ia bersumpah akan memberikan “pelajaran yang tidak terlupakan” kepada Trump apabila Amerika Serikat menyerang Iran.

Di tengah retorika keras tersebut, muncul laporan mengenai adanya komunikasi tertutup. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi adanya saluran komunikasi terbuka antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff.

Sementara itu, tekanan internasional terhadap Iran terus meningkat. European Union tengah mempertimbangkan sanksi tambahan dan telah melarang diplomat Iran memasuki gedung Parlemen Eropa.

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras kekerasan negara terhadap warga sipil Iran, sementara Rusia membela Teheran dengan menentang segala bentuk campur tangan asing dalam urusan internal Iran. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Trump di Persimpangan: Risiko Militer dan Opsi Non-Mematikan di Krisis Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)