Frustrasi Selat Hormuz Ditutup, Trump Hanya Bisa Mengancam Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The White House/Viory

Frustrasi Selat Hormuz Ditutup, Trump Hanya Bisa Mengancam Iran

Fajar Nugraha • 6 April 2026 06:48

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam dalam unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar pada Minggu 5 April untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.

Ancaman diutarakan jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz yang vital, setelah mengumumkan penyelamatan seorang pilot dalam operasi yang "ajaib".

Trump mengungkapkan di platform Truth Social-nya bahwa pilot yang "terluka parah" itu telah diselamatkan "dari jauh di dalam pegunungan Iran".

Ia menyebutnya "salah satu Operasi Pencarian dan Penyelamatan paling berani dalam sejarah AS".

Iran mengatakan telah menggagalkan operasi tersebut, dan menyebarkan gambar yang tampaknya menunjukkan puing-puing beberapa pesawat, tetapi tidak membantah bahwa pasukan AS telah menyelamatkannya.

Perang yang meletus pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran telah melanda Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global.

Setelah ultimatum 48 jam yang dikeluarkannya pada hari Sabtu, Trump kembali memperingatkan Iran untuk berhenti mencekik lalu lintas melalui Selat Hormuz.

"Buka Selat sialan itu, dasar bajingan gila, atau kau akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA!" kata Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Senin 6 April 2026.

"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya terbungkus dalam satu hari, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!" serunya.

Kemudian, Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia percaya ada "peluang bagus" bahwa Iran akan menyetujui kesepakatan pada hari Senin.

Batas waktu Trump pukul 9.00 malam Senin 6 April 2026 berpusat pada meningkatnya kekhawatiran atas cengkeraman Iran di Selat Hormuz.

Wakil menteri luar negeri Oman dan Iran sebelumnya dilaporkan telah mengadakan pembicaraan tentang mempermudah lalu lintas melalui selat tersebut.

Di Iran, banyak penduduk Teheran tampak acuh tak acuh terhadap ancaman Trump.

Di sebuah taman besar di barat kota, sekelompok pemuda Iran sedang piknik. Di dekatnya, dua teman bermain Frisbee sementara musik techno menggelegar dari pengeras suara portabel.

Seorang pria memanfaatkan hari yang berangin dengan menerbangkan layang-layangnya di depan Menara Milad, sebuah landmark ikonik Teheran.

Bandara terabaikan

Media AS melaporkan detail operasi penyelamatan seorang penerbang AS, seorang petugas sistem senjata.

The New York Times mengatakan, para penerbang dilengkapi dengan pistol, suar, dan perangkat komunikasi aman untuk berkoordinasi dengan para penyelamat.

Dua pesawat yang seharusnya mengangkutnya dan para penyelamatnya ke tempat aman terjebak di pangkalan terpencil di Iran dan harus dihancurkan untuk mencegahnya jatuh ke tangan Iran, lapor The New York Times dan CBS.

Pasukan AS kemudian menggunakan tiga pesawat angkut lainnya untuk membawa penerbang dan para penyelamatnya keluar dari Iran, kata laporan tersebut.

Militer Iran mengatakan telah menghancurkan empat pesawat AS yang terlibat dalam operasi tersebut, yang menurut mereka menggunakan bandara yang ditinggalkan di provinsi Isfahan selatan.

Media Iran melaporkan lima orang tewas dalam serangan selama operasi tersebut.

Rekaman yang dirilis oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menunjukkan puing-puing hangus pesawat Amerika yang tersebar di daerah gurun, dengan asap masih mengepul.

Trump memuji "Operasi Pencarian dan Penyelamatan yang ajaib" dan mengatakan itu terjadi "sebagai tambahan dari penyelamatan yang berhasil terhadap pilot pemberani lainnya, kemarin, yang tidak kami konfirmasi, karena kami tidak ingin membahayakan operasi penyelamatan kedua kami".

Iran mengatakan pasukannya menembak jatuh jet tempur tempat awaknya melontarkan diri, sementara media AS hanya melaporkan bahwa pesawat itu telah ditembak jatuh.

Pemerintahan AS belum mengatakan secara publik apakah pesawat itu ditembak jatuh atau tidak.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)