Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan hasil SNLIK 2026. (Foto: Dok. Metro TV)
SNLIK 2026: Literasi dan Inklusi Keuangan Lampaui Target RPJMN 2025-2029
Patrick Pinaria • 12 August 2026 15:00
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 pada Senin, 10 Agustus 2026. Hasil survei menunjukkan peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional.
Indeks literasi keuangan nasional pada SNLIK 2026 mencapai 69,57 persen, meningkat 2,93 persen poin dibandingkan 2025 yang sebesar 66,64 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan meningkat dari 92,74 persen menjadi 93,61 persen.
Capaian tersebut telah melampaui target RPJMN 2025-2029 untuk 2029. Target literasi keuangan ditetapkan sebesar 69,35 persen, sedangkan target inklusi keuangan sebesar 93 persen.
Hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi dan inklusi keuangan telah melampaui target RPJMN 2025–2029. (Foto: Dok. Metro TV)
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan peningkatan indeks literasi keuangan tersebut seiring dengan berbagai program literasi dan edukasi yang dilakukan secara intensif.
"Indeks literasi keuangan nasional 2026 mengalami peningkatan dari 66,64 pada 2025 menjadi 69,57. Ini seiring dengan berbagai program literasi dan edukasi yang sangat intensif, terutama dengan adanya Undang-Undang P2SK," kata Friderica.
Friderica mengatakan indeks inklusi keuangan nasional juga mengalami peningkatan dari 92,74 persen menjadi 93,61 persen.
Menurutnya, capaian literasi dan inklusi keuangan pada 2026 juga telah melampaui target RPJMN 2025-2029.
"Capaian literasi dan inklusi keuangan tahun 2026 ini juga sudah melampaui target RPJMN 2025-2029, yaitu untuk tahun 2029 sebesar 69,35 persen untuk literasi keuangan dan 93 persen untuk inklusi keuangan," ujarnya.
SNLIK 2026 untuk pertama kalinya memetakan literasi dan inklusi keuangan hingga level provinsi. Berdasarkan laman resmi OJK, DKI Jakarta mencatat literasi keuangan tertinggi sebesar 84,01 persen, disusul Kalimantan Selatan 79,69 persen dan Bali 78,77 persen.
Prioritaskan kelompok dengan literasi dan inklusi rendah
Berdasarkan hasil SNLIK 2026, OJK menetapkan arah strategi ke depan dengan memprioritaskan masyarakat yang tingkat literasi dan inklusi keuangannya masih di bawah rata-rata nasional.Kelompok tersebut antara lain masyarakat wilayah perdesaan, kelompok usia muda 15 hingga 17 tahun, kelompok usia lanjut 51 hingga 79 tahun, pelajar atau mahasiswa, serta masyarakat yang belum atau tidak bekerja.
Selain itu, sasaran prioritas mencakup masyarakat dengan kelompok pekerjaan tertentu, seperti petani, peternak, pekebun, nelayan, pekerja lainnya, dan ibu rumah tangga.
"OJK menempatkan segmen masyarakat yang memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat nasional sebagai sasaran prioritas. Yaitu masyarakat wilayah perdesaan, kelompok usia muda 15 sampai dengan 17 tahun, dan kelompok usia lanjut 51 sampai dengan 79 tahun," kata Friderica.
Konferensi pers hasil SNLIK 2026 di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026. (Foto: Dok. Metro TV)
Ia menambahkan, OJK juga akan memperkuat literasi dan inklusi keuangan sektoral. Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat memiliki literasi keuangan yang baik sekaligus mendapatkan akses keuangan seluas-luasnya terhadap produk dan layanan keuangan yang tersedia.
"Kami akan mendorong pemerataan pemahaman dan penggunaan produk dan layanan keuangan pada seluruh sektor jasa keuangan, khususnya sektor yang tingkat literasi dan inklusinya masih rendah," ujarnya.
OJK menegaskan peningkatan literasi dan inklusi keuangan akan terus dilakukan. OJK memastikan masyarakat mampu menggunakan produk dan layanan keuangan secara bijak, aman, dan berkualitas.