Ilustrasi pasar takjil Ramadan di Kota Malang. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Dinkes Malang Temukan Takjil Mengandung Bakteri Ecoli dan Pewarna Tekstil
Daviq Umar Al Faruq • 3 March 2026 11:04
Malang: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menemukan sejumlah takjil yang dijual selama bulan Ramadan 2026 mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) dan pewarna tekstil rhodamin B. Temuan ini merupakan hasil uji laboratorium terhadap ratusan sampel makanan dan minuman yang diambil dari pasar takjil di lima kecamatan.
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, menyebut mayoritas takjil yang diperiksa memenuhi standar kesehatan. Namun, ia menegaskan masih ada produk yang terindikasi tercemar dan harus ditindaklanjuti.
"Dari laporan teman-teman di lapangan sebanyak 98,8 persen memang memenuhi syarat. Tapi ada sebagian kecil yang tidak, dan itu tetap menjadi perhatian kami," ujar Husnul, Selasa, 3 Maret 2026.
Pengawasan dilakukan di 19 titik pasar takjil yang tersebar di lima kecamatan se-Kota Malang. Pengambilan sampel berlangsung selama tiga hari pada 23–26 Februari 2026, dengan melibatkan kelurahan dan puskesmas setempat.
Dari 101 sampel yang diuji kandungan bakteri, sebanyak 10 sampel atau sekitar 9,9 persen dinyatakan positif terpapar E. coli. Artinya, hanya 91 sampel yang lolos uji keamanan pangan dari sisi cemaran bakteri.
Tak hanya itu, uji zat pewarna juga menemukan pelanggaran. Dari 69 sampel yang diperiksa, empat di antaranya atau 5,8 persen positif mengandung rhodamin B. Rhodamin B merupakan pewarna sintetis yang dilarang untuk pangan karena berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus. Penggunaan zat ini kerap disalahgunakan untuk memberi warna mencolok pada makanan dan minuman.
Di sisi lain, Dinkes memastikan tidak menemukan kandungan boraks dalam 73 sampel, formalin pada 72 sampel, serta methanil yellow pada 25 sampel yang diuji. Hasil itu menunjukkan sebagian besar pedagang telah mematuhi aturan penggunaan bahan tambahan pangan.
Meski demikian, pedagang yang produknya terindikasi mengandung bakteri maupun zat berbahaya tetap dipanggil untuk pembinaan. Dinkes menegaskan data pedagang telah dikantongi untuk memudahkan tindak lanjut.
"Sudah kami tindak lanjuti karena datanya jelas, ada alamat dan nama pedagangnya. Kami sampaikan bahwa makanan dan minuman yang dijual mengandung bahan yang tidak direkomendasikan," kata Husnul.

Ilustrasi pasar takjil Ramadan di Kota Malang. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Dinkes meminta pedagang memperbaiki kualitas bahan baku dan proses pengolahan agar takjil lebih higienis. Aspek kebersihan dan penggunaan bahan tambahan pangan yang aman dinilai menjadi kunci utama.
"Harapan kami setelah hasil laboratorium disampaikan, ke depan bahan-bahan tersebut tidak kembali digunakan saat menyajikan makanan yang akan dijual berikutnya," tegas Husnul.
Selain pembinaan pedagang, Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar lebih selektif saat membeli takjil Ramadan. Konsumen diminta memperhatikan warna, aroma, dan kebersihan lapak untuk menghindari risiko gangguan kesehatan.
"Kami mengimbau kepada konsumen untuk tidak membeli makanan yang memiliki warna mencolok, yang berpotensi memiliki bahan pengawet yang berlebihan juga. Pembeli harus cermat," kata Husnul.