Wabah Ebola di Kongo Lampaui 1.000 Kasus, 254 Orang Meninggal

Petugas menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. (Anadolu Agency)

Wabah Ebola di Kongo Lampaui 1.000 Kasus, 254 Orang Meninggal

Willy Haryono • 22 June 2026 16:56

Kinshasa: Wabah Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo terus memburuk setelah jumlah kasus terkonfirmasi melampaui 1.000 orang, dengan angka kematian mencapai 254 jiwa hingga Minggu, 21 Juni 2026.

Dilansir dari Independent, Senin, 22 Juni 2026, Kementerian Kesehatan Kongo melaporkan total 1.003 kasus terkonfirmasi sejak epidemi ini diumumkan pada 15 Mei lalu di Provinsi Ituri. Hingga kini, sebanyak 100 pasien dinyatakan sembuh.

Wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, varian langka yang hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus.

Para pejabat kesehatan mengakui jumlah kasus sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena masih banyak infeksi yang belum terdeteksi. Mereka juga memperingatkan bahwa puncak penyebaran wabah diperkirakan belum tercapai.

Pelacakan Kontak Jadi Kendala

Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian wabah adalah pelacakan kontak. Otoritas kesehatan setempat baru mampu mencapai sekitar 55 persen cakupan pelacakan terhadap orang-orang yang berpotensi terpapar virus.

Hingga kini, kasus pertama atau patient zero wabah tersebut juga belum berhasil diidentifikasi.

Pemerintah menyatakan lebih dari 35.000 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien masih perlu ditelusuri dan dipantau kondisinya.

Sebagian besar kasus terkonsentrasi di Provinsi Ituri yang menyumbang lebih dari 90 persen total infeksi. Namun, kasus juga telah ditemukan di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.

Penyebaran lintas batas juga telah terjadi setelah Uganda melaporkan 19 kasus terkonfirmasi dan dua kematian terkait wabah yang sama.

Selain dampak langsung dari Ebola, para tenaga kesehatan kini menghadapi ancaman krisis kesehatan sekunder. Banyak perempuan hamil dilaporkan enggan mendatangi rumah sakit atau pusat kesehatan karena khawatir tertular Ebola.

Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) mencatat peningkatan kematian ibu di Ituri yang diduga berkaitan dengan wabah tersebut.

Deputi Perwakilan UNFPA di Kongo, Noemi Dalmonte, mengatakan setidaknya terdapat beberapa kasus di mana perempuan hamil meninggal setelah menghindari fasilitas kesehatan karena ketakutan terhadap Ebola atau mengalami gejala yang konsisten dengan infeksi virus tersebut.

Data menunjukkan tujuh kematian ibu tercatat dalam periode yang sama tahun ini, dibandingkan dua kasus pada periode yang sama tahun lalu.

Meski jumlahnya masih relatif kecil, para ahli khawatir angka tersebut dapat meningkat tajam apabila masyarakat terus menghindari layanan kesehatan.

Dampak ketakutan masyarakat terlihat jelas di Kota Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Direktur medis salah satu klinik setempat, Dr. Sonny Mwembo, mengatakan jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan turun drastis.

Sebelum wabah, klinik tersebut menerima sekitar 60 ibu hamil setiap bulan untuk pemeriksaan prenatal. Kini jumlahnya hanya sekitar 10 orang per bulan.

Tenaga kesehatan memperingatkan bahwa penurunan akses terhadap layanan kesehatan dasar dapat memperburuk dampak kemanusiaan wabah Ebola dan meningkatkan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

Dengan penyebaran yang masih berlangsung dan belum tersedianya vaksin maupun terapi khusus untuk varian Bundibugyo, otoritas kesehatan internasional terus mendorong peningkatan pelacakan kontak, edukasi masyarakat, dan akses layanan kesehatan guna mencegah krisis yang lebih luas.

Baca juga:  Wabah Ebola di Kongo: 75 Tenaga Kesehatan Terinfeksi, 17 Meninggal Dunia

(Willy Haryono)