Ilustrasi. Foto: Dok MI
IHSG Turun ke Level 6.220 Kamis Sore
Eko Nordiansyah • 17 June 2026 16:45
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini bertengger di zona merah. IHSG sempat mengalami kenaikan di awal perdagangan hari ini, meski ditutup dengan penurunan.
Berdasarkan data RTI, Rabu, 17 Juni 2026, IHSG sore turun 34,226 poin atau setara 0,55 persen ke posisi 6.220,740. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 6.321. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 6.179 dan tertinggi di posisi 6.377.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 34,103 miliar senilai Rp24,705 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.804 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.376.119 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 288 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 391 saham melemah, dan 137 saham lainnya stagnan.
Baca Juga :
Rupiah Ditutup ke Rp17.762/USD Sore Ini
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Pasar wait and see suku bunga BI dan The Fed
Kiwoom Sekuritas menilai, pelaku pasar bersikap wait and see terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed."Kiwoom Research sarankan sebaiknya tunggu break out level penting 6.300 sebelum memutuskan average up. Ingat bahwa kita masih ada beberapa event penting di pekan ini yang berpotensi timbulkan goncangan pasar (RDG BI, serta keputusan MSCI dan FTSE Russell),” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya dikutip dari Antara.
Dari mancanegara, sebanyak 40 persen fund manager memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam 12 bulan ke depan, dari sebelumnya 16 persen, sementara 55 persen memperkirakan Ketua The Fed Kevin Warsh akan mempertahankan nada hawkish pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni pekan ini.
Liza mengatakan sentimen pasar global tetap konstruktif meski mulai menunjukkan divergensi antar kawasan. Survei Global Fund Manager Bank of America menunjukkan optimisme investor mendekati level tertinggi, dengan Bull & Bear Indicator naik ke level 8,9 (sell signal), namun belum mengindikasikan terbentuknya puncak besar pasar.
Ia menyebut positioning investor mulai lebih defensif. Overweight saham global turun dari 50 persen menjadi 38 persen, sementara eksposur teknologi turun dari 33 persen menjadi 26 persen.
“Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat. Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai,” ujar Liza.
Sementara itu, harga minyak kembali anjlok menjelang penandatanganan MoU antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka penuh pada Jumat, dan negosiasi lanjutan akan berlangsung selama 60 hari, meski sejumlah detail kesepakatan masih belum jelas.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan masih keberatan terhadap kesepakatan yang tidak secara penuh menghapus program rudal balistik Iran maupun jaringan milisi pro-Iran di kawasan.
Dari dalam negeri, investor menantikan Global Market Accessibility Review dari MSCI dan rebalancing indeks FTSE pada Jumat, 19 Juni 2026, serta RDG Bank Indonesia pada Kamis, 18 Juni 2026 yang diperkirakan akan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.
Sementara itu, pemerintah berencana menerbitkan Panda Bonds sekitar akhir Juni atau awal Juli 2026, dengan terlebih dulu akan melihat bagaimana respons dan minat investor terhadap rencana penerbitan obligasi tersebut. Tujuan penerbitan Panda Bonds ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat nilai tukar rupiah.